Maknai Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Umat Hindu Mimika Laksanakan Saka Bhoga Sevanam
Timika,papuaglobalnews.com – Memaknai Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026, umat Hindu di Kabupaten Mimika, Papua Tengah melaksanakan kegiatan Saka Bhoga Sevanam di Jalan Cenderawasih, tepatnya di depan Bank Niaga, Minggu 1 Maret 2026) sekitar pukul 17.30 WIT.
Kegiatan ini digelar sebagai wujud harmoni, toleransi, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Secara serentak, umat Hindu di seluruh Indonesia membagikan takjil kepada saudara-saudara umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa 1447 Hijriah.
Sebelum pembagian takjil, acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin I Made Kembar Dana, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Mimika, dilanjutkan arahan singkat dari I Nyoman Dwitana selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Mimika.
Selanjutnya, I Nyoman Dwitana menyerahkan takjil secara simbolis kepada perwakilan umat Muslim yang hadir, sebelum dibagikan kepada para pengendara sepeda motor maupun mobil yang melintas.
I Nyoman Dwitana menjelaskan, menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, umat Hindu Mimika telah melaksanakan berbagai kegiatan kemanusiaan. Rangkaian kegiatan diawali dengan donor darah bekerja sama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Mimika yang digelar di Pura SP4, Distrik Wania, pada 22 Februari 2026, dengan dukungan sejumlah relawan.
“Aksi sosial selanjutnya hari ini Saka Bhoga Sevanam, yakni melayani pembagian takjil kepada saudara-saudara umat Muslim yang sedang menjalani puasa,” jelas Nyoman.
Ia menerangkan, “Saka” berarti penentuan hari raya Nyepi, “Bhoga” berarti makanan, dan “Sevanam” berarti pelayanan, pertolongan, atau pengabdian tulus dan terbaik kepada sesama makhluk sebagai perwujudan kasih kepada Tuhan.
“Jadi dengan membagi takjil ini, kita melayani umat Muslim yang sedang menjalani puasa 1447 Hijriah di Tahun Saka 1948,” ujarnya.
Selain pembagian takjil, umat Hindu Mimika juga melaksanakan aksi sosial berupa pembersihan lingkungan dan penanaman pohon di lokasi eks Pasar Swadaya, Jalan Yos Sudarso pada Minggu 8 Maret 2026 pagi.
Sementara itu, ritual Tawur Agung Kesanga yang merupakan Bhuta Yadnya besar umat Hindu akan dilaksanakan sehari sebelum Nyepi (Tilem Kesanga) pada 18 Maret 2026. Sesuai arahan Bupati Mimika Johannes Rettob, kegiatan ini akan dipusatkan di Lapangan Eks Pasar Swadaya yang dilaksanakan secara bersama-sama.
Menurut Nyoman, Bupati berharap ritual Tawur Agung Kesanga dapat melibatkan umat lintas agama sebagai wujud membangun toleransi dan keharmonisan dalam semangat “Mimika Rumah Kita”. Usai Hari Raya Nyepi, umat Hindu juga akan melaksanakan tradisi saling kunjung dan saling memaafkan namun belum menentukan tanggalnya.
I Nyoman Dwitana yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Mimika berharap pelaksanaan Tawur Agung Kesanga mendapat dukungan seluruh masyarakat lintas agama dan budaya di Mimika agar kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Ia menambahkan, umat Hindu sangat menghayati konsep Tri Hita Karana, yakni tiga penyebab kebahagiaan melalui hubungan harmonis dan seimbang antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
“Khusus hari ini, Saka Bhoga Sevanam kami implementasikan melalui ajaran Tat Twam Asi, yang berarti ‘Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku’. Ini sejalan dengan tema tahun ini, Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga. Nusantara Harmoni, Indonesia Maju,” jelasnya.
Tema tersebut, lanjutnya, menegaskan bahwa seluruh manusia di dunia memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan sebagai satu keluarga besar.
Sementara itu, I Made Kembar Dana menjelaskan, menjelang Nyepi umat Hindu akan melaksanakan rangkaian penyucian alam semesta (Bhuana Agung) dan alam dalam diri (Bhuana Alit).
Melasti (Mekiyis/Melis) dilaksanakan sebelum Nyepi, bertujuan menyucikan diri dan sarana persembahyangan dengan air suci dari laut, sungai, atau danau. Sedangkan Tawur Kesanga atau Mecaru dilaksanakan pada hari Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan), atau sehari sebelum Nyepi, untuk menyucikan lingkungan dan menjaga keseimbangan alam semesta.
Ia menegaskan, pembagian takjil ini menjadi bagian dari upaya menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai sebagai satu keluarga yang hidup di satu bumi.
Pada Hari Nyepi, umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yakni tidak bepergian, tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja, dan tidak menikmati hiburan, dengan berdiam diri di rumah untuk melakukan introspeksi diri.
Setelah Nyepi, rangkaian perayaan ditutup dengan Dharma Santi, sebagai momen simakrama (silaturahmi), saling memaafkan, dan mempererat persaudaraan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kerukunan antarumat, menjaga keseimbangan hidup sesuai Tri Hita Karana, serta memurnikan diri dengan hati yang suci. **

Umat Hindu Mimika membagikan takjil bagi umat Muslim saat melintasi Jalan Cenderawasih menjelang berbuka puasa 1447 Hijriah, Minggu 1 Maret 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

I Made Kembar Dana, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Mimika, I Nyoman Dwitana selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Mimika dan I Made Sudiarta tokoh Hindu Mimika yang juga Wakil Ketua FKUB Mimika foto bersama usai pembagian takjil, Minggu 1 Maret 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

I Made Kembar Dana, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Mimika, I Nyoman Dwitana selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Mimika berada di tenda bersiap-siap membuka acara pembagian takjil, Minggu 1 Maret 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).



































