Luter Nabelau Dievakuasi Tim Kemanusiaan dan Gereja Katolik, TPNPB Sebut Serangan Bom di Gereja sebagai Tindakan Terorisme
Intan Jaya,papuaglobalnews.com – Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melaporkan Kepala Kampung Dangoa, Luter Nabelau, telah dievakuasi oleh pihak Gereja Katolik bersama tim kemanusiaan pada Senin, 18 Mei 2026 pagi. Korban mengalami luka-luka akibat serangan bom yang disebut dilakukan aparat militer Indonesia di halaman Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni Mbamogo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya pada Minggu 17 Mei 2026 sekira pukul 12.15 WIT.
Hal tersebut disampaikan dalam Siaran Pers Ke III Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal Senin, 18 Mei 2026.
Dalam laporan yang diterima dari PIS TPNPB di Kota Sugapa disebutkan bahwa Pastor Yance Yogi bersama rombongan tim kemanusiaan dan masyarakat melakukan evakuasi terhadap Luter Nabelau dari pangkalan ojek Mbamogo.
PIS TPNPB menyebutkan Luter Nabelau merupakan salah satu korban yang terkena serangan drone bom yang dilancarkan aparat militer Indonesia pada Minggu, 17 Mei 2026 sekitar pukul 12.15 WIT di halaman Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni Mbamogo. Insiden tersebut disebut mengakibatkan empat korban jiwa dari warga sipil.
Disebutkan pula dua korban telah dievakuasi ke RSUD Sugapa untuk menjalani perawatan medis sejak Minggu (17/5), sementara Luter Nabelau baru dievakuasi pada Senin pagi dalam kondisi lumpuh dan kritis sehingga harus ditandu oleh masyarakat keluar dari halaman gereja.
PIS TPNPB juga melaporkan hingga Senin (18/5), sudah ada tiga korban yang berhasil dievakuasi oleh pihak Gereja Katolik bersama tim kemanusiaan ke pusat Kota Sugapa untuk mendapatkan perawatan medis di RSUD Sugapa. Sementara korban lainnya disebut belum dapat dievakuasi dan masih dalam pencarian.
Selain itu, warga sipil dari Kampung Mbamogo, Tausiga, Dangoa dan sejumlah kampung lainnya di Distrik Agisiga dilaporkan masih mengungsi ke hutan-hutan dan distrik tetangga untuk mencari perlindungan sejak Minggu hingga Senin.
Sementara sebagian pengungsi lainnya yang telah tiba di Kota Sugapa disebut sedang berada di rumah keluarga mereka karena belum adanya bantuan kemanusiaan, termasuk pendirian kamp pengungsian oleh Palang Merah Indonesia bagi para pengungsi yang tersebar di wilayah Intan Jaya.
Dalam siaran pers tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta Presiden Prabowo Subianto membuka akses internasional bagi Palang Merah Internasional untuk menangani para pengungsi di Tanah Papua. Menurut mereka jumlah pengungsi kini mencapai lebih dari 107.039 jiwa akibat operasi militer dan konflik bersenjata antara TPNPB dan aparat militer Indonesia.
Selain itu, TPNPB juga meminta Pemerintah Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Presiden Dewan HAM PBB agar membuka akses bagi lembaga-lembaga HAM internasional untuk melakukan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM berat di Tanah Papua.
“Kami juga mendesak kepada Dewan Keamanan PBB untuk dapat menangani dan menyelidiki kasus serangan bom terhadap Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni Mbamogo di Intan Jaya karena kasus tersebut adalah bentuk ancaman terhadap rumah ibadah yang termasuk dalam kejahatan perang menurut hukum humaniter internasional, dan ini adalah bentuk terorisme yang dilakukan oleh negara Indonesia terhadap pihak Gereja Katolik dan rakyat Papua,” demikian isi siaran pers tersebut.
Siaran Pers Ke III Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tersebut disampaikan oleh Jubir TPNPB-OPM, Sebby Sambom.
Adapun penanggungjawab nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM yakni Jenderal Goliath Tabuni selaku Panglima Tinggi TPNPB-OPM, Letnan Jenderal Melkisedek Awom sebagai Wakil Panglima TPNPB-OPM, Mayor Jenderal Terianus Satto sebagai Kepala Staf Umum TPNPB-OPM dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen sebagai Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM. **









