Timika,papuaglobalnews.com – Umat Muslim di Indonesia, termasuk di Kabupaten Mimika, kini memasuki hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah. Suasana penuh suka cita mulai terasa menjelang Hari Raya Idul Fitri, setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dengan menahan lapar, haus, serta berbagai hawa nafsu.

Di tengah penantian tersebut, umat Islam masih menunggu pengumuman resmi dari Kementerian Agama RI terkait penetapan 1 Syawal sebagai hari pelaksanaan Idul Fitri.

Ketua Umum MUI Mimika, KH Muh Amin AR, menegaskan bahwa sidang isbat memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia. Menurutnya, sidang ini menjadi wadah untuk menyatukan berbagai metode penentuan kalender hijriah, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

“Sidang isbat perlu diadakan oleh Kementerian Agama untuk memberikan kepastian hukum dan pedoman resmi dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia. Sidang ini menyatukan berbagai metode dari berbagai organisasi Islam untuk menghindari perbedaan, sekaligus sebagai bentuk kehadiran negara dalam memfasilitasi ibadah masyarakat,” jelas Amin dalam rilisnya kepada papuaglobalnews.com, Kamis 19 Maret 2026.

Ia kemudian memaparkan sejumlah alasan penting mengapa sidang isbat sangat diperlukan:

Pertama, memberikan kepastian hukum dan pedoman resmi. Hasil sidang isbat dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama sehingga memiliki kekuatan hukum yang mengikat dan menjadi acuan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Kedua, menyatukan perbedaan metode. Perbedaan antara metode hisab dan rukyat yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dapat dipertemukan dalam forum sidang isbat melalui musyawarah yang melibatkan data ilmiah dan kesaksian lapangan.

Ketiga, sebagai bentuk kehadiran negara. Sidang isbat menunjukkan tanggung jawab negara dalam mengayomi umat Islam agar dapat menjalankan ibadah secara serentak dan harmonis.

Keempat, mencegah kebingungan di tengah masyarakat. Dengan adanya satu keputusan resmi dari pemerintah, masyarakat memiliki pedoman yang jelas sehingga tidak terjadi kebingungan akibat perbedaan penentuan hari raya.

Kelima, sebagai bentuk verifikasi ilmiah. Sidang isbat menggabungkan metode hisab dan rukyat yang dilakukan dari berbagai titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia untuk memastikan keakuratan penetapan awal bulan hijriah.

Amin menegaskan sidang isbat bukanlah untuk menandingi salah satu metode, melainkan sebagai mekanisme kolektif yang mengedepankan pendekatan ilmiah, musyawarah, serta kepastian hukum demi menjaga persatuan umat.

Dengan demikian, diharapkan seluruh umat Islam dapat menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh kebersamaan, ketenangan, dan rasa persaudaraan. **