Ketua OKIA Kecam Oknum Pelecehan Seksual Terhadap Pekerja Kaum Perempuan dalam Proses Perekrutan Tenaga Kerja di Timika
Timika,papuaglobalnews.com – Raimond Kelanangame, Ketua OKA Mimika Papua Tengah mengecam keras tabiat buruk oknum-oknum pelaku pelecehan seksual terhadap pekerja kaum perempuan dalam proses perekrutan tenaga kerja di peruashaan yang ada di Timika belakangan ini.
Raimond dalam rekaman video tujuh menit dua puluh lima detik berlogokan OKIA pada Minggu 10 Mei 2026 menjelaskan, berawal dari sebuah diskusi singkat terungkap fenomena gunung es yang jika dicermati sudah menjadi rahasia umum.
“Kita akan fokus pada isu dan fakta yang diendapkan, yang terjadi di lingkungan kita. Dan mungkin pernah menimpa keluarga kita. Dimana pada proses perekrutmen tenaga kerja baik di perusahaan swasta maupun pemerintahan. Dalam diskusi kali ini kita lebih menyentuh pada sektor swasta terutama perusahan-perusahaan besar yang ada di Timika,” jelas Raimond dalam videonya yang diterima redaksi papuaglobalnews.com pada Rabu malam 13 Mei 2026.
Ia menyayangkan banyak praktek yang dimainkan oleh oknum-oknum HRD atau pimpinan dari suatu instansi atau departemen salah satu perusahaan dengan memanfaatkan kebutuhan kerja dari ternaga kerja, khususnya kaum perempuan untuk kepentingan yang sangat memalukan. Yaitu, dengan modus menjajikan akan lulus diterima sebagai karyawan atau sebagai pekerja kontrak dengan imbalan praktek asusila.
“Ini menjadi catatan penting bagaimana agar peristiwa semacam ini tidak boleh terjadi lagi kepada generasi anak-anak kita atau adik-adik kita yang akan datang,” katanya.
Ia berharap fenomena gunung es ini harus menjadi atensi para pimpinan perusahaan lebih memperketat pengawasan dari proses rekrutmen dari bawahannya atau kepada pimpinan perusahaan atau instansi itu sendiri.
“Karena banyak informasi yang diterima, juga melalui pimpinan yang banyak menimpa adik-adik, anak-anak kita. Banyak yang sudah senior-senior dari kita juga yang sudah mengalami pelecehan terhadap harkat dan martabat seorang perempuan,” sesalnya.
Dengan dasar kejadian ini, Raimond meminta peristiwa itu menjadi titik balik bagi Pemerintah Kabupaten Mimika dalam memberantas praktek busuk dari Bumi Kamoro Tanah Amungsa.
Ia mendorong seluruh perempuan yang ada di tanah Papua maupun di luar Papua yang bekerja menjadi tulang punggung keluarga tidak boleh dian dan takut menyuarakan tentang praktek tak terpuji ini.
“Perempuan harus berani berbicara ke publik, ke keluarga ataupun ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana atau berani melaporkan langsung kepada pihak kepolisian, sehingga oknum-oknum ini harus ditindak tegas. Tidak boleh biarkan mereka merajalela melakukan tindakan-tindakan bejat,” sarannya.
Ia menyampaikan proses interview kerja dengan meminta bertemu di hotel bahkan ajak temani minum miras di bar.
“Suruh yang aneh-aneh, ini kan mereka lakukan dengan sadar. Ini harus ditindak tegas,” tegasnya.
Raimond menegaskan oknum-oknum melakukan hal ini sesungguhnya mereka memiliki saudara perempuan, atau mempunyai anak perempuan.
Ia mendorong perempuan yang mengalami praktek-praktek pelecehan seperti ini harus berani melawan dan bersuara melalui komunitas perempuan, dinas-dinas terkait, Komnas Perempuan dan Komnas Ham hingga laporkan kepada aparat kepolisian.
Memutus matarantai fenomena gunung es ini, Raimond menyarankan kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana dapat membentuk semacam Satuan Tugas (Satgas) menggandeng Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) dengan menyiapkan posko guna menerima setiap pengaduan dari korban.
“Kita harus memberikan peringatan keras kepada oknum-oknum bejat yang melakukan praktek-praktek seperti ini,” tegasnya.
Ia mengatakan apa yang dipaparkan tersebut merupakan hasil diskusi singkat namun bernas. Sebagai perempuan-perempuan hebat yang sudah bekerja ataupun yang akan bekerja harus dilindungi, karena mereka kelompok rentan terhadap praktek-praktek tidak manusiawi oleh oknum pelaku.
Ia mengajak semua pihak memberikan dukungan kepada kaum perempuan supaya berdiri dan bertumbuh setara dengan kaum laki-laki dalam berkarya membangun Mimika dan Papua secara umumnya. **








