Keluarga Enia Magai dan Yupini Minta Nama LMA Boteuka Diganti
Timika,papuaglobalnews.com – Keluarga besar marga Enia Magai dan Yupini meminta kepada seluruh tokoh masyarakat, tokoh adat dan kaum intelektual keluarga Woge yang telah membentuk Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Boteuka atau Bontomobui Selatan supaya segera diganti dengan nama lain.
“Jika nama yang dibentuk saat ini tidak diganti dengan nama baru maka efeknya kedepan akan kena,” ujar Demianus Enia Magai selaku tokoh intelektual muda mewakili marga Magai dan Yupi kepada redaksi papuaglobalnews.com dalam rekaman suaranya pada Senin malam, 2 November 2026.
Demianus meminta kepada seluruh tokoh masyarakat, adat adat dan intelektual Woge perlu memahami, memikirkan secara jernih, arif dan bijak serta secara baik dengan mempertimbangkan apakan nama ini perlu digunakan atau tidak, mengingat secara tradisi adat setempat nama tersebut dilarang digunakan selama belum ada ijin dan persetujuan dari keluarga besar rumpun Enia Magai dan Yupini. Ini sebagai bagian dari menjaga marwah dan martabat suku Enia Magai dan Yupini.
Ia berharap dalam penggunaan nama Boteuka atau Bontomobui dalam bahasa Moni semua pihak perlu menyadari baik harus diawali dengan musyawarah bersama seijin yang melibatkan Enia Magai dan Yupini bukan dilakukan sepihak agar tidak terjadi ketersinggungan.
“Karena sampai saat ini kami sendiri belum tahu apa yang menjadi dasar penggunaan nama Boteuka. Karena kami sendiri tidak dilibatkan,” katanya.
Demianus meminta kepada ketua sementara yang sudah dipilih dalam persiapan memimpin LMA kedepannya harus memperhatikan hal ini secara serius dan jangan bermain-main dengan penggunaan mana tersebut.
Secara tegas, Demianus mengingatkan kepada masyarakat Woge sudah waktunya cukup menyalahgunakan nama ini di wilayah Kampung Mudetadi Distrik Bouwobado Kabupaten Deiyai yang hingga kini perkembangan belum semua dirasakan oleh masyarakat setempat.
“Suku lama Distrik Bouwobado selalu jadi sumber pendapat untuk hidup. Tapi pembangunan tidak ada sama sekali itu, saya minta cukup, sekarang dilarang menggunakan Boteuka dan Bontomobui, tidak boleh pakai lagi,” katanya.
Meskipun demikian, Demianus mengapresiasi atas lahirnya LMA baru oleh masyarakat Woge dalam musyawarah pada 31 Oktober 2026 di Wagete Deiyai. Namun Demianus meminta penggunaan nama Boteuka supaya dihapus atau diganti dengan sebutan lain sebelum orangtua mengambil langkah-langkah tegas melakukan tuntutan secara adat atas kerugian penggunaan nama milik Marga Enia Magai dan Yupini tanpa ijin. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.


