“Tuhan jadikan kita orang Damal, berarti Ia juga sudah membekali kita dengan segala pengetahuan. Pengetahuan itu kemudian dijadikan budaya dan kebiasaan kita. Budaya jadi pijakan kuat kita,” tegasnya.

Melianus menggarisbawahi gereja, pendidikan dan budaya adalah satu kesatuan yang utuh tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, ibarat dua mata uang koin.

Melianus sangat mendukung aspirasi pembangunan lapangan terbang di Beoga Barat.

“Masyarakat boleh sampaikan usulkan ke DPRK. Tetapi semua intelektual, tokoh agama, tokoh adat serta pemuda dan tokoh perempuan sepakat dan berupaya sama-sama agar harus ada lapangan terbang di Beoga Barat,” ujarnya.

Lapangan terbangan merupakan infrastruktur dasar yang akan mendukung kemajuan pembangunan di daerah gunung lebih khusus Beoga.

“Lapangan terbang kita hanya Beoga, tetapi kita harus berpikir maju dari semua sisih. Pemerintah harus bangun gedung sekolah yang yang layak untuk mendukung proses belajar mengajar, siapkan gedung puskesmas dalam mendukung pelayanan medis di sini,” jelasnya.

Habel Wandagau, S.Pd, mewakili kaum intelektual Puncak mengatakan gereja dan pemerintah harus berjalan beriringan. Dalam melaksanakan kegiatan harus saling mendukung agar pembangunan kerohanian dan fisik di semua sektor dapat berjalan baik dan berimbang.

Ia juga mengajak semua masyarakat harus bersatu dalam mendukung pembangunan.

Sonny Wandikbo, Wakil Ketua I DPRK Puncak menerima aspirasi masyarakat dan berjanji memperjuangkan usulan tersebut  dalam sidang pembahasan APBD Induk 2026. **