Inilah Ungkapan Hati dan Harapan Mgr Bernardus Bofitwos Baru Setelah Diumumkan Sebagai Uskup Timika
Timika,papuaglobalnews.com – Tanggal 8 Maret 2025 pukul 20.00 WIT atau pukul 12.00 waktu Roma menjadi sejarah baru bagi umat Katolik di dunia lebih khusus umat Katolik Timika Papua. Pada tanggal penuh rahmat ini Paus Fransiskus mengumumkan Pater Dr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA sebagai Uskup Timika yang baru menggantikan mendiang Mgr Jhon P. Saklil, Pr. Mgr Jhon tutup usia pada 3 Agustus 2019.
Surat Apostolik pengangkatan Pater Bernardus Bofitwos Baru dibacakan oleh RD. Marthen E. Kuayo, Administrator Keuskupan Timika di Gereja Paroki Katedral Tiga Raja.
Usai diumumkan dalam sapaan awal di hadapan umat Katolik Timika, Mgr Bernardus mengungkapkan dengan Paus memilih dirinya sebagai Uskup adalah rahmat Tuhan yang patut bersyukur kepada Tuhan atas doa dan air mata mama-mama Papua, umat Katolik Papua setelah lima tahun lima bulan mengalami kekosongan gembala.
Ia juga mengutip refleksi Santo Agustinus tentang perasaan Santo Agustinus saat dipilih sebagai Uskup Hipo di Afrika Utara tahun 3054.
Pada saat itu umat berteriak menginginkan agar Agustinus menjadi Uskup Hipo. Namun Agustinus sendiri tidak mau. Hatinya menjadi sedih, karena menjadi uskup mempunyai beban yang sangat berat. Adalah godaan besar, karena akan jatuh pada kekuasaan, ujian, jatuh pada godaan-godaan kesombongan. Atas alasan itu Agustinus menolak menjadi Uskup Hipo.
Tetapi satu titik yang Agustinus sampaikan “saya takut kemungkinan ini pada mulanya saya mencari keselamatan, di tempat yang terendah tempat terakhir daripada risiko naik diatas jabatan tinggi karena akan tergoda oleh kesombongan, pujian, status.”
“Saya sebenarnya lebih suka menjadi seorang biarawan. Hidup dalam kontemplasi mencari Tuhan dalam keheningan dan studi Kitab Suci.
Tetapi saya tidak bisa menolak mungkin Gembala Agunglah yang memilih untuk menggembalakan gereja-Nya”.
Perasaan Uskup Agustinus ini kata Mgr Bernardus sama juga dialami dirinya.
“Saya tidak punya cita-cita dan keinginan menjadi Uskup. Saya mau jadi seorang Agustinuswan. Saya mau hidup dalam kontemplasi, mencari Tuhan dalam keheningan. Tetapi gereja Papua membutuhkan, Yesus Gembala Agung membutuhkan,” kata Uskup Bernardus.
Uskup Bernardus menyampaikan perasaan serupa dirinya sampaikan ketika bertemu Nuncio di Jakarta.
“Inilah pilihan Yesus Kristus sendiri Sang Gembala Agung, saya siap untuk menerimanya,” kata Uskup Bernardus.
Dalam menjalankan tugas kegembalaan, Uskup Bernardus sangat mengharapkan rekan-rekan imam, biarawan dan biarawati serta umat sekalian meskipun sebagai uskup juga adalah umat. Dalam pelayanan membutuhkan dukungan doa dari semua umat.
Uskup Bernardus meminta kepada para imam, frater, bruder, suster serta umat dalam mendukung pelayanan perlu memperhatikan tiga hal penting.
Pertama, mengedepankan sikap saling mendengarkan. Kedua, Saling mengedepankan dialog dan komunikasi. Dan Ketiga, sikap saling membantu dan saling bekerjasama. Karena sebagai uskup tidak dapat menjalankan tugas sendirian. **

























