Ia pun memotivasi seluruh peserta agar tidak berhenti setelah pelatihan selesai, melainkan terus berlatih menyanyi dan memainkan alat musik tradisional sehingga kemampuan mereka semakin berkembang.

Sementara itu, Erik, perwakilan peserta dari Suku Amungme, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber yang telah memberikan pendampingan selama empat hari pelatihan.

Sebagai generasi muda, ia mengakui bahwa saat ini banyak anak muda mulai melupakan musik tradisional dan lebih tertarik mengikuti budaya luar.

Karena itu, ia berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan oleh pemerintah, sekaligus disertai bantuan alat musik tradisional kepada para peserta.

“Sebagai generasi muda kami juga mengalami kesulitan mendapatkan alat musik tradisional,” ungkapnya.

Perwakilan peserta dari Suku Kamoro, Benediktus, juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Mimika yang telah mewujudkan harapan masyarakat Kamoro melalui pelatihan tersebut.

Ia berkomitmen bersama generasi muda Kamoro untuk terus menampilkan karya-karya musik tradisional sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus mengangkat harkat dan budaya masyarakat Kamoro.

Sementara itu, Wakil Ketua I Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (LEMASKO), Marianus Maknaepeku, mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Mimika yang telah menggagas pelatihan seni musik tradisional bagi generasi muda Amungme dan Kamoro.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan terobosan baru yang sangat penting dalam menumbuhkan semangat generasi muda untuk mempertahankan adat dan tradisi agar tidak punah.

Marianus berharap setelah mengikuti pelatihan, seluruh sanggar seni dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan pemerintah, terutama penyambutan tamu maupun pejabat, sehingga selain memperkenalkan budaya Amungme dan Kamoro kepada masyarakat luas, juga memberikan manfaat ekonomi bagi para pelaku seni.

“Kami sangat mendukung kegiatan pelatihan ini. Kami berharap pemerintah tidak hanya menyelenggarakan pelatihan, kemudian membiarkan mereka berjalan sendiri. Tetapi tetap memberikan pendampingan melalui bantuan peralatan musik dan dukungan modal agar mereka merasa diperhatikan,” harap Marianus.

Ia mengakui musik tradisional kini mulai ditinggalkan karena masyarakat lebih memilih cara yang instan dengan memutar musik melalui bluetooth. Namun, menurutnya, apabila seni musik tradisional terus dihidupkan, maka adat dan budaya Amungme serta Kamoro akan tetap lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang. **