Mama-mama pinang berada pada posisi asimetris terhadap penyetor pinang, sirih dan kapur non-Papua (quasi-lead firm). Mereka mengendalikan arus barang dan harga, sementara mama-mama berperan sebagai dependent vendors tanpa posisi tawar atau posisi dimana quasi-lead firm kehilangan otonomi ekonomi. Kita bisa mencermati rantai relasi itu dalam contoh kasus supplaier makanan pada korporasi besar di Kota Timika.

Biopolitik di atas lapak Pinang

Mama-mama bukan hanya menghadapi pembeli yang keras menawar. Mereka juga berhadapan dengan aturan daerah, pungutan dari aparat, atau “intimidasi”  dari  para “preman” yang mengaku mengamankan pasar/lapak. Kadang, dengan dalih penataan kota, mereka digusur tanpa ganti rugi, tanpa dipertanyakan, dan tanpa dilibatkan dalam musyawarah.

Michel Foucault menyebut ini sebagai biopolitik. Bagaimana negara mengatur dan mengontrol hidup warga melalui peraturan, keamanan, dan tatanan ruang. Lapak pinang menjadi simbol tempat dimana tubuh perempuan berhadapan langsung dengan kekuasaan, baik kekuasaan negara maupun kapital. Di sana, ketika mama-mama pinang berdiri diam saja sudah mengisyaratkan bentuk perlawanan.

Kapitalisme cair dan relasi yang menguap

Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity (2000) menyatakan bahwa dunia hari ini adalah “dunia yang cair: Relasi tidak lagi permanen, semua serba cepat, dan manusia menjadi “turis sosial” yang melompat dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa akar.”

Di Timika pun mulai tampak jejak ini. Anak-anak muda Papua beralih menjual lewat media sosial. Efisien, tapi juga menjauhkan. Tidak ada tawar menawar hangat. Tidak ada lagi sapa penuh hormat. Semua menjadi keranjang kuning, klik dan kirim, secepat koneksi internet mengizinkan.

Byung-Chu Han, filsuf Koreaa-Jerman, menyebut masyarakat ini sebagai masyarakat yang mengusir yang lain. Yang diutamakan adalah keseragaman, efisiensi, dan kinerja. Mama-mama yang tidak bisa ikut ritme ini dianggap “mengganggu pemandangan, atau menghalangi mobil lewat, dst. Mereka dibungkam bukan dengan senjata, tapi dengan narasi ketertiban dan estetika kota.

Merawat relasi yang membebaskan

Lalu, apakah kita hanya bisa pasrah pada relasi pasar itu? Tidak!!! Buber mengajak kita kembali pada relasi “Aku-Kamu” _ relasi yang mengenali sesama sebagai pribadi utuh. Polanya mengingatkan bahwa pasar seharusnya tertanam dalam kehidupan sosial, bukan sebaliknya. Kita bisa membayangkan pasar yang bukan hanya efisien, tapi juga adil. Bukan hanya bersih, tapi juga ramah bagi mereka yang menjaga kehidupan dari bawah.

Mama-mama penjual pinang itu tidak sekadar pelaku ekonomi. Mereka adalah penjaga ingatan, penjaga nilai, dan penyambung relasi antar manusia yang hampir punah di tengah dunia serba jual beli. Menyapa mereka, membeli dengan adil, membela hak mereka atas ruang kota-adalah cara kecil merawat hidup bersama yang tak ditentukan oleh harga.

Saran

Adalah tugas, tanggung jawab dan solidaritas kita bersama mengarahkan sorot pandang kita kepada lapak mama-mama pinang. Membangun kembali basis relasi sosial mereka. Koperasi mama-mama yang benar-benar milik mereka (bukan bantuan temporal); pendidikan berbasis lapak pinang yaitu pendidikan yang membantu mama-mama memahami bagaimana rantai pasok komoditas itu bekerja; dan merumuskan regulasi yang memberi perlindungan terhadap ekonomi hidup warga kecil.

Saat hidup bersama dihisap oleh nilai tukar, yang tersisa hanyalah angka-bukan wajah, bukan cerita, bukan cinta yang ditanam dari kampung. Maka, yang kita perlukan bukan sekadar kebijakan, tapi keberpihakan. Potret mama-mama pinang menjadi penanda undangan untuk semua pihak agar berpihak pada yang kecil, menyuburkan solidaritas, ruang kota yang tidak tunduk pada harga.

Kini saatnya menyusun ulang duniadimana nilai hidup tidak bisa dibeli, dan wajah mama-mama pinang di emperan tidak lagi disamakan dengan nilai barang. Di bawah langit yang sama, mari kita hidup, bukan sekadar bertahan. {Isi tulisan tanggung jawab penulis}