Hidup Bersama Dihisap oleh Nilai Tukar
Oleh : Laurens Minipko
SETIAP pagi, saat kabut masih menggantung dan pesona gerimis menghujam perlahan di sekitar Kota Timika, mama-mama Papua dan mama-mama perantauan mulai menggelar lapak dan menata jualan. Ada yang membawa pinang dari kebun dan atau halaman rumah, ada pula daun gatal dari hutan, atau keripik pisang dari dapur kayu, dan berbagai ramuan jualan.
Kalau bicara pinang, bicara juga sirih dan kapur. Tiga serangkai pemakna lapak itu memiliki cerita unik yang patut dicermati. Tidak semua mama-mama itu memetik pinang dan sirih dari apa yang mereka tanam, dan tidak pula membungkus kapur dari apa yang mereka kerjakan sendiri.
Lalu, dari mana mereka mendapatkannya? Pinang, kapur dan sirih sampai ke tangan mereka setelah melewati rantai pasokan yang panjang. Dari pemetik pinang dan sirih, pembakar kapur, hingga pundak pengangkut karung dari kampung ke kota.
Sesudah tertata apik, mama-mama duduk bersimpuh di pinggir jalan atau di pojok pasar SP. 1, SP. 2, SP. 3, SP. 4. Di antara lalu lintas motor, teriakan anak-anak sekolah, dan raungan alat berat milik perusahaan tambang, suara mama-mama ini seperti nyanyian yang nyaris hilang.
Pasar hari ini bukan lagi ruang aman yang menyambut mereka sebagai bagian tubuh sosial. Pasar telah berubah. Ia tidak lagi sekadar tempat jual beli, melainkan arena relasi kuasa – dimana nilai tukar menjadi ukurannya.
Dari Relasi Sosial ke Relasi Ekonomi
Relasi yang terjadi di pasar hari ini, bahkan di lapak-lapak sederhana mama-mama Papua dan perantauan, perlahan berubah dari “Aku-Kamu” menjadi relasi” (Martin Buber).
Relasi pertama melibatkan perjumpaan, penghormatan, dan pengakuan terhadap sesama sebagai pribadi. Relasi kedua, sebaliknya, adalah hubungan instrumental – kita berelasi bukan karena siapa dia, tapi karena apa gunanya.
Pembeli bukan lagi saudara yang datang dengan sapa dan kabar, tetapi pelanggan yang menawar harga barang jualan tanpa peduli. Mama-mama pun bukan lagi penjaga nilai dan pengetahuan lokal, tetapi penyedia barang dagangan. Relasi sosial asli direduksi menjadi transaksi ekonomi.
Proses ini disebut Karl Polanyi sebagai disembeddednes-pecabutan ekonomi dari akar sosialnya. Pasar yang dulu tertanam dalam hubungan kekerabatan, adat, dan etika, kini berdiri sebagai kekuatan otonom yang membentuk bahkan mengatur relasi manusia. Tanah, tenaga, dan bahkan waktu kini semua tunduk pada logika pasar.
Apa itu??? Logika dimana cara pikir dan tindakan didasarkan pada prinsip-prinsip utama pasar yaitu persaingan bebas, penawaran permintaan, kalkulasi untung rugi, harga sebagai penentu.
Kuasa Asimetris dalam Rantai Pasok Pinang
Gereffi, dkk, dalam teori Global Value Chains, memberi perhatian pada bagaimana nilai ekonomi diproduksi, dikontrol, dan didistribusikan dalam jaringan global produksi barang dan jasa.
Ia menjelaskan lebih jauh bahwa rantai pasok global tidak netral karena ada struktur kuasa yang mengatur. Dalam relasi pasar “rantai pasok” diatur oleh pihak dominan (lead firm) yang menentukan harga, kualitas, dan akses pasar. Di sini terjadi relasi kuasa yang asimetris (tidak seimbang). Dalam konteks informal, pihak dominan bisa berbentuk pedagang besar, pemilik modal, atau aktor etnis mayoritas, dst.
Mama-mama pinang berada pada posisi asimetris terhadap penyetor pinang, sirih dan kapur non-Papua (quasi-lead firm). Mereka mengendalikan arus barang dan harga, sementara mama-mama berperan sebagai dependent vendors tanpa posisi tawar atau posisi dimana quasi-lead firm kehilangan otonomi ekonomi. Kita bisa mencermati rantai relasi itu dalam contoh kasus supplaier makanan pada korporasi besar di Kota Timika.
Biopolitik di atas lapak Pinang
Mama-mama bukan hanya menghadapi pembeli yang keras menawar. Mereka juga berhadapan dengan aturan daerah, pungutan dari aparat, atau “intimidasi” dari para “preman” yang mengaku mengamankan pasar/lapak. Kadang, dengan dalih penataan kota, mereka digusur tanpa ganti rugi, tanpa dipertanyakan, dan tanpa dilibatkan dalam musyawarah.
Michel Foucault menyebut ini sebagai biopolitik. Bagaimana negara mengatur dan mengontrol hidup warga melalui peraturan, keamanan, dan tatanan ruang. Lapak pinang menjadi simbol tempat dimana tubuh perempuan berhadapan langsung dengan kekuasaan, baik kekuasaan negara maupun kapital. Di sana, ketika mama-mama pinang berdiri diam saja sudah mengisyaratkan bentuk perlawanan.
Kapitalisme cair dan relasi yang menguap
Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity (2000) menyatakan bahwa dunia hari ini adalah “dunia yang cair: Relasi tidak lagi permanen, semua serba cepat, dan manusia menjadi “turis sosial” yang melompat dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa akar.”
Di Timika pun mulai tampak jejak ini. Anak-anak muda Papua beralih menjual lewat media sosial. Efisien, tapi juga menjauhkan. Tidak ada tawar menawar hangat. Tidak ada lagi sapa penuh hormat. Semua menjadi keranjang kuning, klik dan kirim, secepat koneksi internet mengizinkan.
Byung-Chu Han, filsuf Koreaa-Jerman, menyebut masyarakat ini sebagai masyarakat yang mengusir yang lain. Yang diutamakan adalah keseragaman, efisiensi, dan kinerja. Mama-mama yang tidak bisa ikut ritme ini dianggap “mengganggu pemandangan, atau menghalangi mobil lewat, dst. Mereka dibungkam bukan dengan senjata, tapi dengan narasi ketertiban dan estetika kota.
Merawat relasi yang membebaskan
Lalu, apakah kita hanya bisa pasrah pada relasi pasar itu? Tidak!!! Buber mengajak kita kembali pada relasi “Aku-Kamu” _ relasi yang mengenali sesama sebagai pribadi utuh. Polanya mengingatkan bahwa pasar seharusnya tertanam dalam kehidupan sosial, bukan sebaliknya. Kita bisa membayangkan pasar yang bukan hanya efisien, tapi juga adil. Bukan hanya bersih, tapi juga ramah bagi mereka yang menjaga kehidupan dari bawah.
Mama-mama penjual pinang itu tidak sekadar pelaku ekonomi. Mereka adalah penjaga ingatan, penjaga nilai, dan penyambung relasi antar manusia yang hampir punah di tengah dunia serba jual beli. Menyapa mereka, membeli dengan adil, membela hak mereka atas ruang kota-adalah cara kecil merawat hidup bersama yang tak ditentukan oleh harga.
Saran
Adalah tugas, tanggung jawab dan solidaritas kita bersama mengarahkan sorot pandang kita kepada lapak mama-mama pinang. Membangun kembali basis relasi sosial mereka. Koperasi mama-mama yang benar-benar milik mereka (bukan bantuan temporal); pendidikan berbasis lapak pinang yaitu pendidikan yang membantu mama-mama memahami bagaimana rantai pasok komoditas itu bekerja; dan merumuskan regulasi yang memberi perlindungan terhadap ekonomi hidup warga kecil.
Saat hidup bersama dihisap oleh nilai tukar, yang tersisa hanyalah angka-bukan wajah, bukan cerita, bukan cinta yang ditanam dari kampung. Maka, yang kita perlukan bukan sekadar kebijakan, tapi keberpihakan. Potret mama-mama pinang menjadi penanda undangan untuk semua pihak agar berpihak pada yang kecil, menyuburkan solidaritas, ruang kota yang tidak tunduk pada harga.
Kini saatnya menyusun ulang duniadimana nilai hidup tidak bisa dibeli, dan wajah mama-mama pinang di emperan tidak lagi disamakan dengan nilai barang. Di bawah langit yang sama, mari kita hidup, bukan sekadar bertahan. {Isi tulisan tanggung jawab penulis}

















