Griya Satu Mimika Foundation Telah Menolong Rehab Puluhan Pasien ODGJ, Tapi Minim Perhatian Pemerintah
Sebagai penanggungjawab yayasan, ia berharap organisasi perangkat daerah (OPD) teknis dapat membangun kerja sama yang lebih erat, khususnya dalam penanganan pasien ODGJ yang ditemukan berkeliaran di jalan-jalan Kota Timika.
Ia juga mengaku sangat prihatin terhadap kondisi ODGJ perempuan yang hidup di jalan karena sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual maupun pemerkosaan.
“Untuk menolong sesama, terutama mereka yang mengalami gangguan mental dan hidup di jalan-jalan, kami sangat siap dan terbuka. Tapi harus ada kerja sama dengan pemerintah. Kalau kami sendiri tidak mampu,” katanya.
Meski belum pernah menerima bantuan tetap dari pemerintah maupun pihak swasta, Yosevitaliana bersyukur karena masih ada masyarakat yang memiliki kepedulian dan memberikan donasi secara sukarela, meskipun jumlahnya tidak menentu.
Saat ini terdapat tujuh pasien yang tinggal di rumah singgah. Salah seorang pasien laki-laki sedang dijemput keluarganya selama satu minggu dan akan kembali menjalani rehabilitasi. Dari pasien yang saat ini menjalani perawatan, terdiri atas dua laki-laki dan empat perempuan, serta seorang pasien lainnya yang sementara berada bersama keluarga.
Di antara penghuni rumah singgah terdapat dua eks pasien Rumah Sakit Jiwa Abepura, Jayapura, yakni Maria dan Laura. Maria sebelumnya merupakan eks penghuni Panti Rehabilitasi Eme Neme Yauware di Jalan Poros Mapurujaya Kilometer 7. Karena tidak memiliki keluarga, ia telah tinggal hampir tiga tahun di rumah singgah tersebut. Sementara Laura telah tinggal sejak tahun 2024 hingga sekarang.
Yosevitaliana bersyukur seluruh pasien yang menjalani rehabilitasi, baik yang masih tinggal di rumah singgah maupun yang telah dipulangkan ke keluarga, mengalami peningkatan kondisi kesehatan. Selain mendapat terapi, mereka juga memperoleh makan dan minum yang cukup sebanyak tiga kali sehari sehingga kondisi fisik mereka menjadi lebih sehat dan berat badan bertambah.
Menurutnya, seluruh pasien yang kini menjalani rehabilitasi sudah mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, mulai dari mandi, mencuci pakaian, makan hingga memasak. Khusus aktivitas memasak tetap didampingi petugas karena terdapat peralatan tajam seperti pisau maupun parang.
Dalam menjalankan pelayanan, Griya Satu Mimika Foundation didukung oleh tujuh orang petugas, terdiri atas dua laki-laki dan lima perempuan. Seluruh petugas berjaga selama 24 jam dengan sistem kerja bergiliran pada shift pagi, siang, dan malam.
Yosevitaliana berharap keberadaan rumah singgah ini dapat menjadi mitra pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi penyandang gangguan jiwa yang membutuhkan penanganan.
Ia berharap pemerintah dapat bergandengan tangan, mengesampingkan ego sektoral, serta membuka ruang kerja sama demi meningkatkan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat yang rentan mengalami gangguan jiwa.
Pantauan papuaglobalnews.com, rumah singgah tersebut memiliki tujuh ruangan, terdiri atas satu kamar besar berkapasitas hampir 10 orang bagi pasien yang telah pulih, satu ruangan berkapasitas sekitar 10 orang untuk pasien yang masih dalam tahap pemulihan, dua kamar berterali besi sebagai ruang isolasi bagi pasien yang sedang agresif, satu ruang petugas, satu ruang kantor, serta dilengkapi dapur dan kamar mandi di setiap bagian bangunan.
Saat ditemui media ini, Maria dan Laura tampak tenang serta mampu berkomunikasi dengan baik. Maria mengaku berasal dari Kei Besar dan sebelumnya tinggal di SP1 Timika, sedangkan Laura mengaku berasal dari Betawi. Keduanya mengatakan merasa nyaman tinggal di rumah singgah, dapat tidur dengan tenang serta mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti mandi, mencuci pakaian, dan makan. **













