Timika,papuaglobalnews.com – Griya Satu Mimika Foundation telah hadir di Kabupaten Mimika sejak 22 Desember 2022. Berdiri di atas lahan seluas 36 x 15 meter persegi dengan bangunan permanen satu lantai berukuran 20 x 9 meter persegi. Yayasan ini telah beroperasi selama kurang lebih 3,5 tahun sebagai rumah singgah bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Berlokasi di Jalan Poros SP2–SP5, Kelurahan Timika Jaya, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika. Griya Satu Mimika Foundation bergerak di bidang pelayanan kemanusiaan dengan menampung, merawat, dan merehabilitasi ODGJ agar tidak hidup terlantar atau berkeliaran tanpa arah di jalan-jalan Kota Timika.

Ketua Yayasan Griya Satu Mimika Foundation, Yosevitaliana Achmad, yang ditemui papuaglobalnews.com di rumah rehabilitasi ODGJ, Sabtu 19 Juli 2026, menjelaskan, sejak mulai beroperasi hingga pertengahan Juli 2026, telah menerima dan merehabilitasi sekitar 35 pasien ODGJ.

Menurut Yosevitaliana, pada awal berdiri yayasan sempat menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mimika. Namun, seiring pergantian pimpinan di Dinsos serta perubahan regulasi, kerja sama tersebut tidak lagi berlanjut sehingga seluruh pelayanan kini dijalankan secara mandiri tanpa dukungan pemerintah.

Dari sekitar 35 pasien yang pernah menjalani rehabilitasi, sebagian besar telah dipulangkan kepada keluarga setelah dinyatakan pulih oleh dokter, umumnya setelah menjalani terapi selama kurang lebih tiga bulan. Namun, ia mengakui tantangan terbesar justru muncul setelah pasien kembali ke lingkungan keluarga.

Menurutnya, banyak pasien kembali mengalami kekambuhan karena tidak lagi rutin mengonsumsi obat ataupun kurang mendapatkan perhatian dan pengawasan dari keluarga. Dukungan keluarga merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses pemulihan jangka panjang bagi penyandang gangguan jiwa.

Ia mencontohkan seorang pasien laki-laki yang dua tahun lalu dipulangkan dalam kondisi sehat dengan berat badan mencapai sekitar 80 kilogram setelah menjalani rehabilitasi. Namun tahun ini, ibu pasien kembali menghubungi pihak yayasan dan melaporkan bahwa anaknya kambuh akibat mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Pasien tersebut bahkan dilaporkan bertindak agresif, merusak pagar rumah warga, membawa lari mobil yang sedang terparkir karena kuncinya masih tergantung, hingga akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian.

“Mendengar kabar itu saya sempat merasa kecewa. Seolah-olah perjuangan kami selama mendampingi dan merawatnya hingga pulih menjadi sia-sia. Tetapi demi kemanusiaan kami kembali menerima pasien tersebut dan saat ini sedang menjalani terapi pemulihan,” ungkapnya.

Ia menegaskan petugas rumah singgah hanya membantu proses rehabilitasi. Setelah pasien dinyatakan pulih dan dipulangkan, tanggung jawab utama berada di tangan keluarga.

Selain dukungan keluarga, Yosevitaliana menilai lingkungan tempat tinggal pasien juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemulihan. Apabila lingkungan tidak mendukung, maka risiko pasien kembali kambuh akan semakin besar.

Ia menyebutkan, dari 35 pasien yang berhasil dipulihkan, hampir sebagian besar merupakan warga non-Papua yang kemudian dipulangkan ke kampung halamannya. Berdasarkan komunikasi yang terus terjalin dengan keluarga mereka, sebagian besar kini sudah dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, seperti berkebun dan bekerja.

Minim Perhatian Pemerintah

Yosevitaliana mengakui, meskipun rumah singgah tersebut telah membantu merehabilitasi puluhan ODGJ di Mimika, hingga kini perhatian pemerintah masih sangat minim, baik dari sisi dukungan anggaran maupun sumber daya manusia (SDM). Seluruh pelayanan masih dijalankan secara mandiri.

Sebagai penanggungjawab yayasan, ia berharap organisasi perangkat daerah (OPD) teknis dapat membangun kerja sama yang lebih erat, khususnya dalam penanganan pasien ODGJ yang ditemukan berkeliaran di jalan-jalan Kota Timika.

Ia juga mengaku sangat prihatin terhadap kondisi ODGJ perempuan yang hidup di jalan karena sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual maupun pemerkosaan.

“Untuk menolong sesama, terutama mereka yang mengalami gangguan mental dan hidup di jalan-jalan, kami sangat siap dan terbuka. Tapi harus ada kerja sama dengan pemerintah. Kalau kami sendiri tidak mampu,” katanya.

Meski belum pernah menerima bantuan tetap dari pemerintah maupun pihak swasta, Yosevitaliana bersyukur karena masih ada masyarakat yang memiliki kepedulian dan memberikan donasi secara sukarela, meskipun jumlahnya tidak menentu.

Saat ini terdapat tujuh pasien yang tinggal di rumah singgah. Salah seorang pasien laki-laki sedang dijemput keluarganya selama satu minggu dan akan kembali menjalani rehabilitasi. Dari pasien yang saat ini menjalani perawatan, terdiri atas dua laki-laki dan empat perempuan, serta seorang pasien lainnya yang sementara berada bersama keluarga.

Di antara penghuni rumah singgah terdapat dua eks pasien Rumah Sakit Jiwa Abepura, Jayapura, yakni Maria dan Laura. Maria sebelumnya merupakan eks penghuni Panti Rehabilitasi Eme Neme Yauware di Jalan Poros Mapurujaya Kilometer 7. Karena tidak memiliki keluarga, ia telah tinggal hampir tiga tahun di rumah singgah tersebut. Sementara Laura telah tinggal sejak tahun 2024 hingga sekarang.

Yosevitaliana bersyukur seluruh pasien yang menjalani rehabilitasi, baik yang masih tinggal di rumah singgah maupun yang telah dipulangkan ke keluarga, mengalami peningkatan kondisi kesehatan. Selain mendapat terapi, mereka juga memperoleh makan dan minum yang cukup sebanyak tiga kali sehari sehingga kondisi fisik mereka menjadi lebih sehat dan berat badan bertambah.

Menurutnya, seluruh pasien yang kini menjalani rehabilitasi sudah mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, mulai dari mandi, mencuci pakaian, makan hingga memasak. Khusus aktivitas memasak tetap didampingi petugas karena terdapat peralatan tajam seperti pisau maupun parang.

Dalam menjalankan pelayanan, Griya Satu Mimika Foundation didukung oleh tujuh orang petugas, terdiri atas dua laki-laki dan lima perempuan. Seluruh petugas berjaga selama 24 jam dengan sistem kerja bergiliran pada shift pagi, siang, dan malam.

Yosevitaliana berharap keberadaan rumah singgah ini dapat menjadi mitra pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi penyandang gangguan jiwa yang membutuhkan penanganan.

Ia berharap pemerintah dapat bergandengan tangan, mengesampingkan ego sektoral, serta membuka ruang kerja sama demi meningkatkan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat yang rentan mengalami gangguan jiwa.

Pantauan papuaglobalnews.com, rumah singgah tersebut memiliki tujuh ruangan, terdiri atas satu kamar besar berkapasitas hampir 10 orang bagi pasien yang telah pulih, satu ruangan berkapasitas sekitar 10 orang untuk pasien yang masih dalam tahap pemulihan, dua kamar berterali besi sebagai ruang isolasi bagi pasien yang sedang agresif, satu ruang petugas, satu ruang kantor, serta dilengkapi dapur dan kamar mandi di setiap bagian bangunan.

Saat ditemui media ini, Maria dan Laura tampak tenang  serta mampu berkomunikasi dengan baik. Maria mengaku berasal dari Kei Besar dan sebelumnya tinggal di SP1 Timika, sedangkan Laura mengaku berasal dari Betawi. Keduanya mengatakan merasa nyaman tinggal di rumah singgah, dapat tidur dengan tenang serta mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti mandi, mencuci pakaian, dan makan. **