Gedung GKII Maranatha Klasis Timika Kota Diresmikan, Berikut Pesan Pdt. Beri Jordan untuk Hamba Tuhan dan Jemaat
Timika,papuaglobalnews.com – Gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Klasis Timika Kota berukuran 28×15 meter persegi berlokasi di Jalan Hasanuddin mulai digunakan setelah diresmikan pada Selasa 5 Mei 2026. Pembangunan gedung gereja tersebut memakan waktu selama sepuluh bulan terhintung April 2025 hingga rampung Februari 2026. Untuk merampungkan pembangunan gedung gereja tersebut menghabiskan anggaran Rp1,7 miliar. Dana ini bersumber dari bantuan Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika, para donatur dan jemaat.
Peresmian ini mengusung tema utama “Meresmikan Gereja, Membangun Jemaat (Efesus 4: 11-16). Sub Tema “Melibatkan Kristus Dalam Segala Hal Karena Dia Kepala Gereja yang Menyediakan dan Membangun Iman Jemaat”.
Prosesi peresmian diawali dengan pengalungan tas noken kepada Fransiskus Bokeyau, Staf Ahli Bupati Mimika, Pdt. Beri Jordan, Pdt. Detemianus Beanal selaku Ketua GKII Klasis Timika Kota, Pdt. Dr. Hans Wakerkwa, M.Si, Ketua Sinode Wilayah Papua Tengah dan Pdt. Lukas Kadepan oleh perwakilan jemaat. Usai pengalungan Fransiskus Bokeyau menggunting pinta meresmikan gedung gereja mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan pintu gereja oleh Pdt. Hans Wakerkwa menyusul semua masuk mengikuti ibadah syukuran.
Pada perayaan syukuran ini, doa pembukaan dipimpin oleh Pdt. Hans Wakerwa dan doa syukuran dibawakan oleh Pdt. Detemianus Beanal.
Dalam ibadah ini diisi dengan penampilan lagu-lagu pujian yang dibawakan oleh anak-anak sekolah minggu, gabungan Jemaat Maranatha Timika, SMKT Berea, Ibu-ibu Perwakanan, Suku Dani dan Membramo Jemaat Maranatha Timika.
Pdt. Beri Jordan dalam kotbahnya mengungkapkan acara peresmian gereja ini hanya membutuhkan sehari saja namun dalam membangun jemaat agar semua orang mencapai suatu kedewasaan dalam iman membutuhkan waktu, kerja keras dan semangat dalam pelayanan yang luar biasa.
Berkaitan dengan ini, Pdt. Jordan memberikan tiga pesan penting susuai firman Tuhan berdasarkan bacaan Efesus 4: 11-16 yang menjadi perhatian bagi para hamba Tuhan dan Jemaat GKII Maranatha.
Pertama, bahwa sebagai hamba Tuhan dalam menjalankan tugas jika hanya fokus pada pelayanan merupakan sesuatu yang salah tetapi lebih kepada melengkapi. Hamba Tuhan yang memfokuskan pada pelayanan itu berarti menjadi semua orang sebagai pendengar, sementara Tuhan sendiri tidak menghendaki umatnya hanya sebatas pendengar melainkan sebagai pelaku. Dengan melengkapi semua jemaat maka semua tugas dan tanggungjawab pelayanan dapat dibagikan kepada jemaat lain tanpa harus menjadi tanggungjawab atau bertumpu hanya kepada hamba Tuhan.
Kedua, sebagai hamba Tuhan dalam bekerja melengkapi untuk membangun tubuh Kristus (Organisme) yang sehat bukan organisasi, agar dalam pelayanan melengkapi berjalan seiring dan seirama serta saling berkaitan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing dengan Kristus sebagai kepala Gereja. Jika gereja bekerja sebagai organisasi perjalanannya jarang terjadi sehati dan sepikir melainkan selalu bertolak belakang. Tetapi satu tubuh selalu sehati, sepikir karena hanya dengan satu kepala yang berpikir diatur oleh Tuhan. Ini semua dengan tujuan mencapai kepenuhan, kedewasaan dalam kebebasan Kristus.
Ketiga, dalam gereja tidak dikenal sebutan kaum awam. Sebab semua merupakan anggota tubuh Kristus. Karena jika disebut kaum awam maka semua orang hanyalah pendengar, namun Tuhan tidak mengkehendaki itu.
“Kita semua harus mencapai kekebasan dan kedewasaan dalam Kristus,” katanya.
Kepada para hamba Tuhan dan Jemaat GKII Maranatha, Pdt. Beri menekankan sebagai jemaat harus berada dalam kedewasaan dan kepenuhan Kristus.
Ia menjelaskan Yesus memilih kedua belas saudaranya salah satu diantara mereka berasal dari Suku Lewi. Suku Lewi merupakan keturunan imam untuk melayani semua masyarakat. Dengan demikian, Tuhan telah melahirkan semua jemaat menjadi imam bagi Allah.
Ia mengungkapkan Tuhan mempunyai cara menjadikan semua umat Kristen sebagai imam untuk melayani-Nya.
Tugas sebagai imam berdiri di tengah untuk mengambil berkat untuk memberkati umat-Nya dengan roh-Nya yang kudus. Sebaliknya sebagai imam menjadi perantara menyerahkan serta mendoakan masyarakat kepada Allah untuk mengabulkan setiap permohanan umat-Nya.
Sementara Pdt. Detemianus Beanal dalam sambutan menyampaikan melalui momen peresmian ini Jemaat Maranatha GKII Klasis Timika Kota merasa suka cita dan haru melihat apa yang terjadi pada hari ini.
Hadirnya gedung ini merupakan hasil atas kerja keras, kesabaran dan ketekunan doa yang terus menurus dipanjatkan oleh seluruh Jemaat Maranatha serta semua dukungan dari berbagai pihak sejak tahap perencanaan hingga rampungnya pembangunan.
Ia mengungkapkan gedung gereja ini menjadi tempat berkumpul, tempat yang suci untuk menyampaikan segala permohonan dan harapan kepada Tuhan agar selalu bertumbuh dan bangun bersama Kristus.
Pada kesempatan itu, Pdt. Beanal menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril dan materi dalam menyukseskan pembangaunan gereja tersebut.
Sementara Fransikus Bokeya dalam sambutan Bupati Mimika mengungkapkan, peresmian gedung gereja ini merupakan wujud nyata dari iman, kerja keras, serta kebersamaan seluruh jemaat.
“Proses yang telah dilalui tentu membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan semangat gotong royong. Untuk itu, atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi,” jelasnya.
Ia menegaskan gedung gereja ini bukan sekadar bangunan melainkan tempat suci untuk beribadah sekaligus sarana pembinaan iman, penguatan moral dan penanaman nilai kasih serta persaudaraan.
Ia berharap kehadirannya mampu mempererat kebersamaan umat serta memperkuat kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam.
“Kabupaten Mimika memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama. Kondisi ini merupakan kekayaan yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati dan toleransi. Gereja memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut serta turut berkontribusi dalam menciptakan suasana damai dan sejahtera,” ujarnya.
Dikatakan, pemerintah daerah terus berkomitmen mendukung pembangunan kehidupan keagamaan sebagai bagian dari pembangunan menyeluruh. Keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritual menjadi kunci dalam mewujudkan masyarakat yang maju, rukun, dan berkarakter. **






