Timika,papuaglobalnews.com – Halaman Graha Eme Neme Yauware di Jalan Belibis, Timika, pada Rabu, 4 November 2026, tampak berbeda dari biasanya. Sekitar pukul 14.00 WIT, anak-anak TK, SD, dan SMP Tabita Sion Timika mulai berdatangan mengenakan pakaian adat tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada yang mengenakan pakaian adat Papua, Jawa, Ambon, dan Toraja. Mereka datang didampingi orang tua dan guru masing-masing untuk mengikuti Festival Kolaborasi Sion ke-5.

Acara menanamkan nilai-nilai edukatif, kreatif dalam melestarikan karya seni berbalut budaya nusantara dengan tema “Kreativitas Seni Generasi Kristen”berlangsung hingga Kamis 5 November 2026.

Di atas karpet hijau, anak-anak TK, SD, dan SMP tampil anggun penuh percaya diri. Mereka mempersembahkan berbagai penampilan dengan gerakan yang apik mengikuti irama musik dalam kreativitas seni dan budaya Nusantara yang spektakuler.

Wilhelmus Haurissa, Dewan Pembina Yayasan Tabita Sion Timika, mengawali sambutannya dengan mengajak seluruh keluarga besar Sion untuk bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan perlindungan-Nya sehingga Festival Kolaborasi Sion ke-5 dapat terlaksana.

Selain menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Wilhelmus menjelaskan, sesuai dengan namanya, kolaborasi berarti kerja sama. Kerja sama tersebut melibatkan pihak sekolah, orang tua murid, yayasan, serta seluruh anak didik.

Menurutnya, melalui kolaborasi dan kerja sama yang baik, semua pihak memiliki satu tujuan, yakni melihat dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak yang dididik di lingkungan Yayasan Tabita Sion.

Dengan demikian, potensi yang dimiliki setiap anak dapat ditemukan, dididik, dan dibina sehingga kelak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa.

Hal tersebut, katanya, sejalan dengan visi sekolah dan yayasan, yaitu menghasilkan generasi berkarakter Kristus dan generasi yang berkualitas.

Mantan Sekda Kabupaten Mimikq ini juga menjelaskan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan Yayasan Tabita Sion bertumpu pada konsep 3T, yakni Temukan, Tindakan, dan Tampilkan.

Temukan

Wilhelmus mengatakan, setiap anak memiliki talenta atau bakat masing-masing. Karena itu, tugas orang tua dan guru adalah menemukan potensi yang dimiliki setiap anak agar dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan dan karunia yang diberikan Tuhan.

Ia mengingatkan agar orang tua maupun guru tidak memaksakan kehendaknya kepada anak-anak untuk mengikuti keinginan orang dewasa. Sebaliknya, anak-anak perlu diarahkan sesuai dengan potensi dan talenta yang telah Tuhan siapkan bagi mereka.

“Jadi kalau misalnya anak-anak kita, kita lihat mereka suka bongkar pasang apa dan sebagainya, berarti sasarannya dia ini akan menjadi orang-orang yang punya keahlian dalam mekanik dan sebagainya. Kalau dia tukang lukis, kita tahu anak ini punya potensi kesenian dan sebagainya. Akhirnya apa? Kita temukan, akhirnya kita bisa menuntun mereka,” jelasnya.

Tindakan
Mantan Kepala Distrik Mimika Timur ini juga mengatakan setelah menemukan potensi yang dimiliki anak-anak, langkah selanjutnya melakukan tindakan nyata untuk membimbing dan mengembangkan talenta tersebut.

Menurut Wilhelmus, tindakan yang dimaksud memberikan contoh dan teladan kepada anak-anak tentang bagaimana menyelesaikan sesuatu, membahas suatu persoalan agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam hal ini, orang tua di rumah dan guru di sekolah memiliki peran penting karena anak-anak akan belajar dan bertumbuh dengan melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.

Wilhelmus menjelaskan tahap ketiga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menampilkan dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.

Menurutnya, kegiatan Festival Kolaborasi merupakan salah satu bentuk tindakan nyata untuk memberikan ruang kepada anak-anak agar dapat memperlihatkan kemampuan dan talenta masing-masing.

Ia menegaskan, apabila tidak ada kesempatan dan tindakan nyata untuk memberikan ruang kepada anak-anak, bakat dan talenta yang mereka miliki bisa saja terpendam sehingga tidak terlihat perkembangannya.

Sebaliknya, melalui kegiatan seperti Festival Kolaborasi, anak-anak diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri bahwa mereka memiliki potensi yang dapat dikembangkan.

“Karena apabila kita tidak ada satu tindakan bagi mereka, akhirnya bakat talenta itu akhirnya dikuburkan dan tidak akan bisa kita lihat mereka berkembang dengan baik. Tapi apabila ada tindakan yang sore hari ini dan besok, mereka mulai mengatakan bahwa saya bisa, karena saya punya talenta di sini, dan saya juga sudah menerima petunjuk, dan semua akan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dengan penerapan tiga hal tersebut, Wilhelmus menyatakan keyakinannya bahwa visi dan misi sekolah untuk menghasilkan anak-anak berkarakter Kristus dan berkualitas dapat diwujudkan.

Ia berharap seluruh proses pendidikan dan pembinaan anak-anak di lingkungan Yayasan Tabita Sion senantiasa berjalan dengan baik sehingga nama Tuhan dipermuliakan. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.