Timika,papuaglobalnews.com – Dua pelajar SMK Negeri I Kuala Kencana Kelas XII Teknik Kendaraan Ringan (TKR) B Jurusan Otomotif yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bengkel Mobil Sendang Jaya SP3, diduga dibunuh oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) pada Minggu, 30 Agustus 2026 dini hari.

Peristiwa tersebut mengagetkan masyarakat sekitar dan keluarga  besar SMK Negeri I Kuala Kencana.

Kedua korban masing-masing bernama Nomison Genongga, yang tinggal di Jalur 1 Trans Lokal SP3 dan Tardius Kogoya, warga SP12 Blok 1.

Kepala SMK Negeri I Kuala Kencana, Selsius Aron, membenarkan setelah berkoordinasi dengan wali kelas, kedua korban merupakan anak didiknya yang saat ini duduk di Kelas XII Teknik Kendaraan Ringan (TKR) B Jurusan Otomotif dan sedang menjalani PKL di bengkel tersebut.

“Benar ade, itu anak murid kami di SMK Negeri I Kuala Kencana. Saya baru tahu setelah pulang gereja. Saat buka HP, ada informasi di grup sekolah sudah ramai,” kata Selsius melalui sambungan telepon kepada redaksi papuaglobalnews.com, Minggu, 30 Agustus 2026 sekitar pukul 10.30 WIT.

Selsius menjelaskan, sesuai kurikulum, kedua korban bersama teman-temannya yang lain seharusnya menjalani PKL selama enam bulan. Namun, karena keterbatasan tempat praktik dan banyaknya siswa-siswi yang masih mengantre, sekolah mengambil kebijakan agar masing-masing siswa menjalani PKL selama empat bulan.

PKL tersebut diperkirakan selesai pada Oktober 2026 dan setelah itu akan digantikan oleh pelajar lainnya.

“Namun keduanya baru menjalani dua bulan PKL, terhitung sejak 1 Juli 2026 lalu,” jelasnya.

Ia mengakui, sesuai aturan, anak-anak yang menjalani PKL selalu pulang ke rumah setelah jam kerja di tempat magang selesai atau bengkel tutup.

“Namun sesuai informasi tadi, keduanya tidur di bengkel. Apakah baru malam ini mereka tidur di bengkel atau selama ini memang mereka tidur di tempat itu setelah berbicara dengan pemilik bengkel itu, kami juga belum tahu persis. Kita masih cari tahu,” jelas Selsius.

Selsius juga mengakui bahwa sejauh ini dirinya belum mendapat informasi mengenai adanya persoalan yang dialami kedua korban selama menjalani PKL.

“Kita tidak pernah dengar. Karena Pak Apolos sebagai Koordinator Pendidikan Sistem Ganda (PSG) tidak pernah menyampaikan. Itu artinya anak-anak semua dalam keadaan nyaman dan baik-baik saja ikut PKL,” jelasnya.

Selsius mengaku sangat kaget dan terpukul atas kejadian tersebut. Menurutnya, kedua korban merupakan anak sekolah yang tidak tahu-menahu dengan persoalan sosial di masyarakat.

“Kasihan sekali anak muda tidak berdosa tentang masalah sosial. Mereka dua anak sekolah. Sangat disayangkan tindakan seperti begini. Kita merasa rugi,” katanya dengan nada sedih.

Sebagai Kepala Sekolah, Selsius menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas siapa pelakunya dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Kami sangat berduka yang mendalam. Kita mendukung polisi ungkap kasus ini,” katanya.

Selama dua bulan, kedua korban menjalani PKL bersama dua teman lainnya, yakni Juan Andreas Piterzon Pesiwarisa dan Brian Regen Retraubun. Keempat pelajar tersebut menjalani PKL di bengkel milik Mulyadi.

Sementara itu, Kapolsek Kuala Kencana AKP Djemi Reinhard yang dikonfirmasi papuaglobalnews.com membenarkan kejadian tersebut.

Namun, ia mengakui bahwa saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

“Sementara kami masih mengambil data di lokasi. Untuk kejadian sekitar pukul 06.00 lewat tadi, adik. Kasih kami kesempatan untuk kami dalami lagi ya. Informasi selanjutnya silakan hubungi Kapolres Mimika nanti,” kata Djemi.

Berdasarkan video amatir berdurasi 2 menit 28 detik yang beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp, terlihat sejumlah masyarakat yang mendatangi lokasi kejadian untuk memastikan apakah korban merupakan anggota keluarga mereka.

Dalam video tersebut, masyarakat mendapati kedua korban sementara terbaring kaku di tempat tidur dalam kondisi mengalami luka menganga di bagian leher yang diduga akibat sabetan benda tajam.

Seorang korban terlihat mengenakan celana pendek tanpa baju dengan posisi kepala mengarah pada dinding, sementara korban lainnya mengenakan baju merah kotak hitam lengan panjang dan celana panjang berwarna cokelat kepalanya mengarah ke pintu.

Dalam video tersebut juga terdengar suara seseorang yang menyampaikan bahwa kedua korban merupakan anak yang sedang menjalani praktik. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.