Timika,papuaglobalnews.com – Dalam upaya memutus mata rantai kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Sosial (Dinsos) akan mengirimkan 15 anak putus sekolah, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan untuk mengikuti pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Bogor dan ⁠Sentra Handayani Jakarta.

Pelatihan vokasional merupakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan keterampilan atau keahlian praktis sesuai bidang pekerjaan tertentu, sehingga peserta siap memasuki dunia kerja maupun berwirausaha secara mandiri.

“Kegiatan pembinaan vokasional ini disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing peserta,” ujar Kepala Dinas Sosial Mimika, Hasan Kemong, melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Yulita Kudiai, kepada papuaglobalnews.com di sela-sela kegiatan Sosialisasi Implementasi Penanganan Keluarga Anak Putus Sekolah dan Anak Karton di salah satu hotel di Timika, Senin 29 Juni 2026.

Yulita menjelaskan, sebanyak 15 peserta akan mengikuti pelatihan selama enam bulan. Sebelum memulai pelatihan di Jakarta dan Bogor, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan mental oleh tenaga psikolog di masing-masing tempat pelatihan.

Ia memastikan keberangkatan peserta dijadwalkan pada Juli 2026.

Menurutnya, para orang tua dari peserta yang akan mengikuti pelatihan juga turut mengikuti kegiatan sosialisasi dan implementasi Penanganan Keluarga Anak Putus Sekolah dan Anak Karton.

Yulita mengungkapkan, Dinsos Mimika telah mengirimkan data sebanyak 27 calon peserta kepada Kementerian Sosial (Kemensos) untuk dilakukan asesmen kembali. Dari hasil asesmen tersebut nantinya ditetapkan 15 peserta yang berhak mengikuti pelatihan vokasional.

Selama enam bulan mengikuti pelatihan, seluruh biaya peserta ditanggung Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Sosial.

Adapun kompetensi yang akan dipelajari peserta meliputi berbagai bidang keterampilan, seperti pertukangan, tata boga, dan keahlian lainnya yang disesuaikan dengan minat, bakat, serta talenta masing-masing.

Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta juga akan memperoleh bantuan berupa peralatan penunjang dari Dinas Sosial sebagai modal awal untuk memulai usaha atau bekerja secara mandiri.

Yulita mengakui, dari pelaksanaan program sebelumnya terdapat peserta yang menunjukkan perkembangan signifikan saat praktik di lapangan, namun ada pula yang masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

Ia menegaskan bahwa program pelatihan vokasional ini terbuka bagi seluruh masyarakat yang memenuhi persyaratan tanpa terkecuali.

Program serupa sebelumnya telah dilaksanakan pada tahun 2024 dengan jumlah peserta yang sama, yakni 15 orang. Sementara pada tahun 2025 program tersebut tidak diselenggarakan karena telah dibukanya Sekolah Rakyat (SR) di Sentra Pendidikan. **