Pertanyaannya bukan layak atau tidak layak. Berubah menjadi siapa yang menetapkan ukuran kelayakan? Apakah ukuran itu terbuka untuk diuji publik? Apakah indikatornya dapat diverifikasi secara independen?

Dalam hukum kritis, setiap penghargaan kepada pejabat publik aktif dibaca sebagai PRODUKSI WACANA. Ia membentuk narasi bahwa kepemimpinan telah mencapai standar tertentu. Narasi ini bekerja lebih cepat daripada laporan audit. Ia lebih mudah diingat daripada angka kemiskinan atau data pelayanan dasar. Dan, di situlah racunnya yang halus.

Karena ketika kita sudah mapan, kritik sering terasa tidak sopan. Ketika reputasi sudah diberi label emas, pertanyaan menjadi terdengar seperti gangguan. Di sini, kita patut ingat kembali bahwa demokrasi justru hidup dari gangguan yang sehat.

Emas dari Perut Bumi

Di Mimika, emas digali dari perut bumi. Ia tidak langsung berkilau. Ia bercampur lumpur, batu, dan debu. Butuh proses panjang untuk memisahkannya.

Emas sejati dalam pemerintahan juga begitu. Ia bukan soal plakat. Ia bukan soal seremoni. Ia adalah transparansi anggaran yang bisa dibaca warga biasa. Ia adalah kritik yang tidak dibalas dengan ketersinggungan. Ia adalah keberanian media untuk tetap bertanya, bahkan kepada mereka yang pernah diberi penghargaan.

Lampu panggung akan padam. Spanduk akan dilepas. Berita akan digantikan berita lain.

Yang tersisa satu hal: apakah jarak antara kekuasaan dan pengawasnya tetap terjaga? Karena dalam demokrasi, yang paling kita butuhkan bukan pemimpin yang disebut emas, melainkan sistem yang berani menguji kilau itu. Selamat Merayakan Hari Pers 9 Februari 2026. **