Timika,papuaglobalnews.com- Berselang sebelas hari umat Katolik wilayah Keuskupan Timika bersuka cita atas penunjukan RP Bernardus Bofitwos Baru, OSA sebagai Uskup baru Keuskupan Timika oleh Paus Fransiakus pada Sabtu 8 Maret 2025.

Kini dalam suasana suka cita umat Katolik Mimika menerima kabar duka Pastor Paroki Maria Bintang Laut Kokonao, Distrik Mimika Barat RP Gabriel Kera Tukan, SCJ meninggal dunia, Selasa 18 Maret 2025.

Meninggalnya RP Gabriel begitu cepat beredar viral di media sosial didinding facebook maupun di grup-grup whatsapp umat Katolik Keuskupan Timika, sahabat, rekan kerja maupun di grup Kerukunan Flobamora Kabupaten Mimika.

Pastor Paroki Maria Bintang Laut Kokonao itu menutup mata hingga ajal menjemputnya tanpa ada keluhan sakit apapun sebelumnya.

Atas kepergiannya ke rumah bapa di Surga selain mengagetkan juga membuat umat Katolik wilayah Keuskupan Timika lebih khusus umat di 20 stasi Paroki Maria Bintang Laut Kokonao yang dilayani selama ini diselimuti rasa duka mendalam. Rasa duka yang sama juga dialami oleh keluarga Ordo SCJ.

Kepergian putra Nusa Tenggara Timur (NTT) asal Lembata kelahiran Kampung Hadakewa 21 Maret 1976 itu selain mengagetkan semua umat, rekan kerja serta para guru dan sahabat kenalannya juga merasa kehilangan.

Orang-orang yang mengenalnya dekat menulis rasa sedih, duka serta memasang foto flayer ucapan selamat jalan menuju Yerusalem baru di laman facebooknya masing-masing.

Siprianus Rhaki, Kepsek SMP YPPK LE COCQ D’ARMANDVILLE KOKONAO menjelaskan, selama ini kondisi Pater Gabriel sehat-sehat saja. Seperti biasa pada Hari Senin 17 Maret 2025 RP Gabriel memberikan pelayanan rutin di Stasi Amar dan Ipaya. Tiba kembali di paroki sore hari. Pada Senin malam pukul 20.00 WIT masih terlihat sehat seperti biasa duduk di bangku depan teras pastoran bersama Paul Hokon, Bapa Asrama.

Pada Selasa 18 Maret 2025 pagi, Pater Gabriel tidak bangun mengikuti misa pagi di gereja seperti biasanya hanya Pater Drian, SCJ dan Pater Titus, SCJ, suster dan karyawan.

“Mereka berpikir Pater tidak bangun ikut misa kemungkinan cape pulang pelayanan. Tetapi hingga makan siang pukul 14.00 WIT pater juga tidak bangun. Merasa curiga, Pater Drian bersama Paul Hokon mendobrak pintu kamarnya,” jelas Sipri.

Setelah berhasil mendobrak pintu kamar menemukan Pater sementara posisi duduk di kursi sambil memegang handphone dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Setelah mengetahui Pater meninggal semua menjadi panik.

Sekitar pukul 17.30 WIT, Sipri mendengar anak-anak Asrama dan masyarakat ikut menangis histeris bahwa Pater Gabriel meninggal padahal selama ini masyarakat tidak pernah dengar informasi ia lagi sakit.

Ia mengungkapkan sesungguhnya Pater Gabriel sudah meninggal dalam posisi duduk di kursi sekitar pukul 15.00 WIT. Ini bisa dilihat setelah membuka pintu ditemukan bercak darah segar di lantai. Diketahui meninggal karena serangan jantung pada saat dimandikan di Puskesmas Kokonao petugas medis temukan pembulu darah di kaki dan pahanya pecah.

Ia mengungkapkan Selasa sore rencananya jenazahnya langsung diberangkatkan ke Timika melalui jalur laut namun kondisi air sudah tidak memungkinkan lagi.

Umat juga meminta supaya Pater bersama mereka semalam di gereja yang terakhir kalinya.

Bahkan sebenarnya umat setempat mengiginkan Pater Gabriel dikuburkan langsung di Kokonao, karena sudah lama hidup melayani mereka.

Masyarakat beralasan meninggalnya seorang imam merupakan pengalaman pertama kali yang langsung disaksikan oleh mereka. Berbeda dengan imam-imam asal Belanda dan Jerman dulu meninggal disaat usia mereka masih kecil.

Namun dalam misa pelepasan, Rabu 19 Maret 2025 pagi, P. Paulus Drian Suwandi,SCJ yang didampingi P.Titus Purbasaputra, SCJ menyampaikan atas aturan konggregasi jenazah Pater Gabriel harus dibawa pulang sehingga umat menerima.

Sesuai cerita almarhum, dirinya sudah diminta oleh Provinsial SCJ untuk pindah bertugas di tempat lain. Namun almarhum meminta kepada pimpinan SCJ supaya berikan waktu 10 tahun untuk bertugas di Kokonao. Permintaannya dikabulkan. Bahkan almarhum sering bercerita dalam nada guyon ingin meninggal bersama umat di Kokonao.

Dalam keseharian bersama umat lanjut Sipri, almarhum sering memberikan motivasi dan pesan-pesan kepada anak-anak.

Ia meninggal kurang tiga hari merayakan ulang tahunnya genap 49 tahun pada Jumat 21 Maret 2025.

Selama bersama almarhum, Sipri mengungkapkan banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan.

Ia sosok seorang gembala yang rangkul banyak guru.

Salah satu kenangan tidak bisa dilupakan oleh masyarakat serta para guru pada tahun 2017 dan 2018 turun melakukan aksi demo berjuang insentif guru di Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika SP3. Dalam aksi tersebut almarhum ditangkap masuk sel karena dituding sebagai profokator. Namun setelah sehari atau dua hari ditahan kemudian dibebaskan kembali.

Sipri menjelaskan jenazahnya telah dijemput pihak Keuskupan Timika dengan Pesawat Asian One Air menuju Bandara Mozes Kilangin pada pukul 07.00 WIT. Ratusan masyarakat Kokonao mengantarnya hingga di Lapter penuh haru. Pukul 7.55 WIT terbang menuju Bandara Mozes Kilangin.

Berdasarkan informasi yang beredar dari Komunitas SCJ Timika, bahwa setelah dijemput di Kokonao setiba di bandara menggunakan ambulce menuju RSMM untuk diformalin. Kemudian diistirahatkan di Gereja Paroki St. Petrus, SP3. Ia dimakamkan di pemakaman diosesan imam projo Keuskupan Timika bertempatan di hari ulang tahunnya pada Jumat 21 Maret 2025.

RP Gabriel bergabung dengan Konggregasi SCJ diawali dengan mengucapkan kaul pertamanya di Gisting Lampung pada 1 Agustus 1998. Ia kemudian menerima tahbisan imamat di Palembang pada 14 Agustus 2006. Dan menghembuskan nafas terakhir dalam usia imamat 19 tahun.

Pastor Gabriel sudah lama bertugas di beberapa bagian Papua. Mulai dari Serui, Biak dan Kokonao. **