Api, Bukan Abu: Membaca Ulang “Di Bawah Bendera Revolusi” dari Tanah Mimika
Trisakti dan Pertanyaan untuk Mimika
Trisakti—berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan—bukan sekadar slogan tiga kata yang ditempel di baliho. Ia adalah kerangka berpikir yang lahir dari kegelisahan Soekarno terhadap bangsa yang merdeka secara hukum namun masih terjajah secara struktur ekonomi.
Diterapkan ke konteks Mimika, Trisakti semestinya berarti tiga hal konkret:
Pertama, kedaulatan politik berarti suara masyarakat adat Amungme dan Kamoro tidak boleh menjadi catatan kaki dalam setiap kebijakan pertambangan dan pembangunan yang menyangkut tanah leluhur mereka.
Kedua, berdikari dalam ekonomi berarti hilirisasi dan nilai tambah dari kekayaan alam Mimika harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal, bukan sekadar transfer dana yang berhenti di angka-angka laporan tanpa mengubah wajah kampung-kampung di pedalaman.
Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan berarti negara wajib hadir merawat bahasa, adat, dan identitas Papua sebagai kekayaan bangsa—bukan sebagai ancaman yang harus diawasi dengan pendekatan keamanan semata.
Dari Pembatinan Menuju Tindakan
Membaca DBR di Bulan Bung Karno tanpa menariknya ke Papua adalah membaca separuh halaman dan menutup buku sebelum sampai ke bab penting. Soekarno tidak menulis untuk dikenang sebagai monumen beku. Ia menulis untuk digugat ulang setiap zaman, agar generasi penerus tidak berhenti pada romantisme sejarah, melainkan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai: menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai—dan terutama—Mimika.
Pembatinan ajaran Bung Karno yang sesungguhnya bukanlah mengutip pidatonya di panggung peringatan, melainkan mengubah kutipan itu menjadi kebijakan: anggaran kesehatan yang sampai ke pelosok Mimika, sekolah yang berdiri bukan sekadar di atas kertas proposal, dan tanah adat yang dihormati bukan diserobot atas nama investasi.
Api revolusi yang diwariskan Soekarno akan padam jika hanya kita simpan sebagai abu kenangan di bulan Juni. Ia baru benar-benar hidup ketika menyala dalam keberpihakan nyata kepada saudara-saudara kita di tanah Papua—termasuk mereka yang selama ini berdiri di atas tanah paling kaya, namun masih menunggu giliran untuk benar-benar merdeka. (*)

















