Oleh : Dianu Omaleng – Kordinator Humas HAPAK

SEBUAH babak baru bagi pergerakan pemuda adat di Kabupaten Mimika resmi dimulai.

Melalui doa dan perjuangan panjang para pemuda lokal dari suku Amungme dan Kamoro (Amor), serta lima suku kerabat yang tergabung dalam wadah HAPAK, harapan besar untuk mendirikan sebuah rumah adat bersama akhirnya mulai terwujud.

Simbol Perjuangan dan Jembatan Aspirasi

Berdirinya Honai ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan penanaman pondasi spiritual dan kultural bagi anak-anak muda asli daerah.

Kehadiran markas adat ini diharapkan mampu membakar semangat para pemuda untuk menjadi jembatan hidup bagi masyarakat asli Papua dalam menyalurkan aspirasi kepada para pemangku kepentingan.

Filosofi Mendalam Tongoi (Honai) bagi Suku Amungme

Bagi masyarakat adat, khususnya Suku Amungme, kata Honai disebut dengan istilah Tongoi.

Secara turun-temurun, Tongoi dikenal luas sebagai rumah tidur bagi kaum pria sekaligus pusat edukasi adat yang sangat sakral.

Di dalam Tongoi, para orang tua adat berkumpul untuk memberikan berbagai wejangan, nasihat hidup, dan ilmu pembekalan kepada anak laki-laki muda.

Beberapa pilar kehidupan sehari-hari yang diajarkan di dalam Tongoi meliputi:

* Cara Berbisnis: Kemandirian ekonomi dan tata cara berdagang.