Tim Gabungan Sinode GKII Wilayah II Papua Tengah Keluarkan Siaran Pers Tragedi 14 April 2026 di Distrik Kemburu-Puncak, 22.661 Jiwa Mengungsi
Timika,papuaglobalnews.com – Tim gabungan terdiri dari Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah, DPD RI Perwakilan Papua Tengah bersama Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) mengeluarkan siaran pers resmi terkait tragedi 14 April 2026 di Distrik Kemburu, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.
Siaran pers bernomor: 01/TG/SK/PC/PT/V/2026 tersebut diterima redaksi papuaglobalnews.com pada Sabtu 16 Mei 2026.
Berikuti isi lengkap kronologi kejadian berdasarkan data yang dikumpulkan tim gabungan di lapangan pada 7 Mei 2026.
Menurut data yang dihimpun tim, salah satu hamba Tuhan di lokasi kejadian berinisial YK menjelaskan bahwa Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) pada 7 Oktober 2025 menetapkan Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak sebagai lokasi perang.
Setelah ultimatum itu dikeluarkan, masyarakat Distrik Pogoma mengungsi ke sejumlah wilayah terdekat, di antaranya Distrik Kemburu, Distrik Bina, Distrik Sinak Barat dan Distrik Sinak.
Beberapa bulan kemudian, TNI melalui seorang warga Sinak berinisial LT menyampaikan pengumuman pada 2 Maret 2026 di Pasar Sinak bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan operasi militer di Distrik Kemburu. Mendengar informasi itu, masyarakat kembali mengungsi ke Sinak.
Selama tiga minggu berada di Sinak, karena belum ada tanda-tanda operasi militer, masyarakat kembali ke kampung mereka dan mulai beraktivitas seperti biasa selama sekitar dua minggu tiga hari.
Salah satu saksi mata yang enggan disebutkan identitasnya menyampaikan bahwa pada Kamis 9 April 2026, TNI bergerak dari Distrik Sinak menuju Distrik Kemburu melalui jalur darat dengan jumlah personel yang banyak dan perlengkapan lengkap.
Pada 13 April 2026, terjadi serangan darat dan udara di Kampung Ngguamu Distrik Pogoma serta Kampung Aguid, Molu dan Mbelaba Distrik Kemburu. Dalam serangan itu, beberapa warga sipil mengalami luka tembak dan terkena ledakan mortir.
Di Kampung Aguid, dua warga sipil dilaporkan ditembak, yakni Amer Waliya (75) meninggal dunia, Pipanggen Murib (54) mengalami luka tembak, Mbabungga Murib (31) luka tembak dan Para Murib (3) meninggal dunia.
Serangan 14 April 2026
Seorang ibu saksi mata mengatakan bahwa pada 14 April 2026 sekitar pukul 05.00 WIT, TNI melakukan serangan mendadak ke sejumlah kampung di Distrik Kemburu.
“Pada 14 April 2026 kami semua sedang tidur, TNI melakukan serangan secara tiba-tiba dengan menghamburkan tembakan di rumah-rumah warga di beberapa kampung di antaranya Kampung Tenoti, Makuma dan Kemburu,” ungkapnya.
Ia menyebut, serangan dilakukan dengan pengeboman dari udara menggunakan drone sebelum tembakan diarahkan ke rumah-rumah warga.
Dalam insiden tersebut, sejumlah warga sipil dilaporkan meninggal dunia dan mengalami luka-luka.
Di Kampung Tenoti, korban meninggal dunia di antaranya: Pelen Kogoya (45), Undilina Tabuni (35) bersama anaknya dalam kandungan usia 7 bulan dan Tigiyagan Murib (70).
Sementara korban luka-luka diantaranya, Tekiron Murib (3), Edison Murib (2) terkena serpihan granat.
Di Kampung Makuma, korban meninggal dunia atas nama Darman Telenggen (60), Ikari Murib (55), Ketimira Gire (35) bersama anaknya dalam kandungan usia 9 bulan dan Kikunggwe Murib (60).
Sedangkan di Kampung Kemburu, korban luka di antaranya atas nama Tahanan Tabuni (20), Yandina Kogoya (42), Pdt. Etinus Waliya (45) dan Anebagawi Tabuni (55).
Pdt. Etinus Waliya ditembak saat memegang bendera Merah Putih dan Alkitab yang diberikan oleh anggota TNI dari Pos Magebaga atau Pintu Jawa.
Kesaksian Pdt. Etinus Waliya
Pdt. Etinus Waliya menjelaskan sejak Desember 2025 wilayah mereka telah diawasi drone.
Ia mengatakan pada 14 April 2026 bom pertama dijatuhkan di Kampung Tenoti. Setelah itu terjadi ledakan dan tembakan di Kampung Makuma dan Kemburu.
Saat situasi mulai memburuk, ia bersama jemaat berjumlah sembilan orang berusaha mengungsi sambil membawa bendera Merah Putih dan Alkitab sebagai tanda bahwa mereka warga sipil.
“Kami jalan sambil berdoa. Saya di depan pegang bendera dan Alkitab. Tiba-tiba bunyi tembakan dan peluru langsung mengenai lengan saya,” ujar Etinus dalam kesaksiannya.









