John NR Gobai: Tailing Perlu Dimanfaatkan Menjadi Sumber Berkat Pendapatan Ekonomi Baru Pengusaha OAP
Timika,papuaglobalnews.com – Selama PT Freeport Indonesia masih beroperasi, secara otomatis akan terus menghasilkan limbah tailing di Kabupaten Mimika. Kondisi ini diibaratkan seperti nasi yang sudah menjadi bubur dan tidak bisa diubah kembali menjadi beras.
Hal ini disampaikan John NR Gobai, Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, dalam hearing pimpinan DPR Papua Tengah bertajuk “Mencari Solusi Terhadap Kendala Pelayanan Kapal Perintis ke Dermaga Sipu-Sipu Distrik Jita Kabupaten Mimika dan Pengelolaan Tailing di Kabupaten Mimika” yang digelar di salah satu hotel di Timika, Selasa 5 Mei 2026.
John mengungkapkan bahwa hingga saat ini, ketinggian endapan tailing bahkan sudah melebihi daratan Kota Timika. Dalam kondisi tersebut, menurutnya, perlu dipikirkan bagaimana limbah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sumber berkat dan pendapatan baru bagi masyarakat.
Ia menegaskan, secara kasat mata tailing memang dipandang sebagai sumber masalah karena mencemari lingkungan, merusak ekosistem laut, air, dan tumbuhan, serta berpotensi menyebabkan pendangkalan aliran sungai. Namun, di balik itu, tailing juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan agar memberikan nilai ekonomi.
John menekankan pengelolaan dan pemanfaatan tailing sebaiknya dipercayakan kepada masyarakat, khususnya pengusaha Orang Asli Papua (OAP), untuk diolah menjadi produk jadi seperti paving block, batako, dan material bangunan lainnya yang siap dipasarkan.
Menurutnya, pemanfaatan ini tidak hanya mengurangi jumlah tailing yang mengendap, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi OAP sehingga perputaran uang tetap terjadi di Timika, bukan keluar daerah.
Ia menambahkan, pengelolaan limbah secara profesional dan berkelanjutan juga dapat membuka lapangan kerja baru serta menekan angka pengangguran di daerah.
John berharap PT Freeport Indonesia dapat mempertimbangkan pembangunan smelter di Mimika guna memisahkan tailing dari mineral ikutan lainnya. Sisa material yang benar-benar bersih nantinya dapat dikelola oleh pengusaha lokal.
Ia juga menyebutkan bahan baku dari tailing dapat dimanfaatkan untuk produksi batako, paving block, hingga semen. Mengingat kebutuhan batako, paving block dan semen di Papua cukup tinggi, hasil produksi ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan lokal di Timika, tetapi juga didistribusikan ke wilayah Papua secara umum.
Dalam pengelolaannya, jika pengusaha OAP menghadapi keterbatasan fasilitas dan modal, mereka dapat bekerja sama dengan investor luar, namun tetap berada di bawah perusahaan milik putra daerah.






