Afirmasi Fitrah: Dari Muhajirin dan Anshar Menuju Masyarakat Madani
Oleh: Laurens Minipko
SAYA selalu merasa, ada sesuatu yang hilang dari cara kita memandang manusia hari ini.
Kita terlalu cepat menilai siapa yang “punya” dan siapa yang “tidak”. Siapa yang “memberi” dan siapa yang “menerima”. Semua seolah bisa ditimbang, dihitung, lalu disimpulkan.
Padahal, dalam satu kisah lama, ada manusia-manusia yang bertindak tanpa kalkulator.
Mereka memberi tanpa takut berkurang.
Mereka menerima tanpa kehilangan martabat.
Kisah itu terjadi di Madinah.
Saat sekelompok orang datang tanpa membawa apa-apa kecuali iman dan luka perjalanan. Mereka disebut Muhajirin.
Dan sekelompok lain menyambut mereka, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.
Mereka disebut Anshar.
Di titik itulah, sesuatu yang jarang kita sadari hari ini sebenarnya sedang terjadi.
Bukan sekadar peristiwa sosial.
Tapi afirmasi fitriah.
Afirmasi bahwa manusia, pada dasarnya, diciptakan untuk saling menerima bukan saling menakar.
Yang menarik, kaum Anshar tidak sekadar menyediakan tempat tinggal. Itu terlalu biasa. Mereka melakukan sesuatu yang, kalau dipikir dengan logika hari ini, hampir sulit dipercaya: menawarkan separuh dari apa yang mereka miliki.
Separuh.
Bukan sisa.
Bukan yang tidak terpakai.
Tapi separuh.
Saya sering bertanya dalam hati: bagaimana mungkin?
Di zaman kita sekarang, memberi sedikit saja kadang perlu pertimbangan panjang. Hitung-hitungan. Untung-rugi. Bahkan kadang disertai kecemasan: “Kalau saya beri, nanti saya kurang, bagaimana?”
Tapi kaum Anshar tidak tampak sedang menghitung.
Seperti pernah diingatkan oleh Ibn Khaldun, kekuatan sebuah masyarakat tidak pertama-tama lahir dari kekayaan, tetapi dari ‘ashabiyah—ikatan solidaritas yang hidup di antara mereka.
Kaum Anshar, tampaknya, tidak sedang membaca teori.
Mereka sedang menghidupinya.
Namun kisah ini tidak berhenti sebagai moralitas individual.
Ia bergerak menjadi fondasi sosial.
Di kota itu, lahir sesuatu yang jauh melampaui sekadar persahabatan: embrio masyarakat madani.
Nurcholish Madjid menyebut masyarakat madani sebagai masyarakat beradab yang berdiri di atas keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kalau kita jujur, benihnya sudah ada di sini.
Di pelukan Anshar.
Di keteguhan Muhajirin.
Di titik ini, saya mulai melihat sesuatu yang lebih dalam.
Persaudaraan Muhajirin dan Anshar bukan sekadar kedermawanan sosial.
Ia adalah afirmasi.
Afirmasi terhadap kemanusiaan.
Bahwa seseorang yang terusir tetap manusia utuh, bukan beban. Bahwa kehilangan tidak menghapus martabat.
Dan afirmasi seperti ini tidak lahir dari sekadar etika rasional.
Ia lahir dari sesuatu yang lebih purba.
Fitrah.
Seperti ditulis Al-Ghazali, dalam diri manusia ada kecenderungan bawaan menuju kebaikan fitrah yang, jika tidak tertutup oleh kepentingan, akan mendorong manusia mencintai dan menolong sesamanya.
Mungkin itu yang bekerja pada kaum Anshar.
Mereka tidak sedang menjadi “baik”.




































