Gunung Bukan Pasar: Apa Arti Kesepakatan Dagang Indonesia – AS bagi Papua
Oleh : Laurens Minipko
KETIKA Indonesia dan Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan ekonomi baru pada Februari 2026, tajuk berita menyoroti skalanya: pembelian 50 pesawat dari Boeing, impor energi senilai 15 miliar US Dolar per tahun, serta perluasan investasi jangka panjang Freeport di Papua senilai 20 miliar US Dolar dalam dua dekade ke depan.
Di Jakarta, kesepakatan itu dibingkai sebagai resiprositas strategis. Di Washington, ia dipandang sebagai penguatan kemitraan. Di Papua, bunyinya terasa akrab.
Bagi banyak Orang Asli Papua, perjanjian ekonomi besar jarang hadir sebagai abstraksi. Ia datang sebagai alat berat, endapan lumpur di sungai, dan perubahan sunyi ketika gunung diklasifikasikan ulang menjadi “cadangan”.
Dalam kerangka ekonomi politik kritis, perjanjian dagang bukan sekadar transaksi komersial. Ia adalah instrumen yang menata ulang wilayah. David Harvey menyebut kapitalisme moderen bekerja melalui accumulattion by dispossession – akumulasi melalui perampasan. Di mana tanah dan sumber daya dimasukkan ke dalam sirkuit kapital atas nama kepentingan publik dan pertumbuhan nasional. Di Papua, proses ini bukan teori. Ia bersifat geologis.
Nota kesepahaman yang memungkinkan kelanjutan dan perluasan operasi pertambangan hingga selama cadangan dinilai masih layak secara ekonomi terdengar teknokratis. Namun kelayakan tidak dihitung dengan sungai, hutan, atau ingatan leluhur. Ia dihitung dengan permintaan pasar global.
Antropolog Pasifik Epeli Hau’ofa pernah menantang kebiasaan dunia menyebut wilayah Pasifik sebagai “pulau-pulau kecil”. Oceania, tulisnya, adalah “lautan kepulauan”-luas, saling terhubung, relasional. Melihat Papua semata sebagai frontier tambang Indonesia sama saja dengan mengecilkannya. Papua bukan pinggiran. Ia bagian dari dunia oseanik yang luas.
Namun logika perdagangan global meratakan geografi. Gunung menjadi komoditas. Sungai menjadi saluran limbah. Pesawat menjadi simbol kemajuan.
Asimetrisnya halus tetapi konsisten: barang manufaktur bernilai tinggi bergerak keluar; bahan mentah bergerak ke atas dalam rantai pasok; beban ekologi dan sosial menetap secara lokal.
Ini bukan kisah Papua semata. Di seluruh Melanesia dan Pasifik, ekstraksi sumber daya alam terikat pada permintaan global dari fosfat di Nauru hingga pembalakan di Kepulauan Salomon. Semua meninggalkan konsekuensi ekologis yang melampaui masa kontraknya.






























