Diben menambahkan hasil ASAJ ini selanjutkan dilaporkan ke Kantor Wilayah Kementerian Agama di Jayapura dan setelah mengetahui hasil kelulusan pada Mei dilaksanakan penamatan.

Ia menjelaskan dalam mendukung proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan lancar ke depan pihak sekolah dan yayasan lagi berupaya menerapkan sekolah berpola asrama. Langkah ini diambil dengan alasan situasi Kota Timika yang kerap terjadi konflik membuat anak didik memutuskan tidak masuk sekolah karena merasa ketakutan.

“Sekolah berpola asrama ini merupakan kerinduan kami. Karena di Timika ini sering terjadi konflik yang membuat anak-anak takut masuk sekolah. Hampir sebagian besar anak-anak ini lebih banyak tinggal di wilayah Kwamki Narama dan di SP-SP,” katanya.

Untuk merealisasikan program tersebut, Diben mengharapkan ada dukungan dan perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, meskipun sekolah tersebut dibawah pengawasan Kemenang tetapi memiliki misi yang sama mendidik dan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi anak bangsa Indonesia dan Papua.

Sementara Agus Ikomou, Guru Bahasa Inggris dan Kewirausahaan mengharapkan anak-anak Papua memanfaatkan waktu dan kesempatan secara baik dengan mengisi kegiatan-kegiatan bernilai dalam mendukung tumbuh kembang anak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.

Agus yang sudah dua tahun mengabdi di sekolah tersebut berencana dalam pengembangan sekolah pada Mei 2026 akan membuka kelas computer bahasa inggris dan matematika.

Kehadiran program ini membantu meningkatkan skiil anak-anak dalam menghadapi kemajuan era globalisasi yang penuh persaingan agar mereka tidak tertinggal.

“Ini sudah kebutuhan dan menjadi tuntutan untuk harus dilakukan dan bukan menjadi satu alasan. Ini supaya bisa mengubah image bahwa anak Papua tidak tertinggal tetapi terlambat belajar,” ungkapnya.

Dervis Kogoya, Sekretaris panitia ASAJ bersyukur selama pelaksanaan sejak persiapan hingga pelaksanaan penilaian akhir semester dapat berjalan baik. Suksesnya acara ini merupakan bukti hasil kerjasama semua dewan guru yang sudah terlibat langsung sejak 6 hingga 15 April 2026.

“Kami ucapkan terima kasih kepada semua dewan guru yang sudah berikan kepercayaan kepada kami sebagai panitia yang sudah sukses laksanakan kegiatan ini,” katanya.

Ia menyebutkan jumlah peserta ujian akhir tahun ini lebih banyak dari tahun lalu hanya 28 orang.

Seluruh siswa SMTK Berea Timika mengikuti pendidikan dengan biaya yang ditanggung oleh orang tua. Sebagian siswa juga merupakan pindahan dari wilayah Intan Jaya dan Puncak Jaya akibat gangguan keamanan di daerah asal mereka. **