Timika,papuaglobalnews.com – Yohanes Yance Boyau terpilih sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Hukum Adat (LMHA) Mimika Wee dalam Musyawarah Adat (Musdat) hari kedua berlangsung di Tongkonan, Kamis 4 Desember 2025.

Dari 89 pemilik hak suara utusan setiap kampung, Yohanes Yance Boyau meraih meraih 24 suara terbanyak dari Sembilan calon lainnya. Sementara Fredy Sony Atiamona mengantongi 18 suara, Plasidus Natipia mengumpulkan 8 suara, Edoardus Omeyaro 14, Yoh. Moporteyau satu suara, Demianus Samin meraih 13, Shaban Narawena  dua suara, Plasidus M 0, Hendrikus A  dengan 9 suara dan Damianus Awiyuta 0.

Yance dalam sambutan perdana setelah terpilih mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat yang telah memberikan kepercayaan kepada untuk memimpin LMHA Suku Kamoro Mimika Wee selama lima tahun kedepan.

Yance dalam bahasa Kamoro menegaskan dirinya akan menjaga dan melindungi batas tanah adat Suku Kamoro.

“Karena sudah hampir sepuluh tahun tidak ada yang memimpin kami, kelaparan melanda daerah kami, sehingga terjadi gizi buruk. Bapak ibu datang mengeluh di hadapan saya, saya mau coba bawa bapak ibu ini dan anak-anak yang berpendidikan kurang supaya dapat perhatian. Saya akan lihat semua dari pesisir timur sampai barat,” paparnya.

Yance berjanji akan bekerja keras supaya tidak ada lagi masyarakat yang mengeluh kepada pemerintah dan Freeport.

Yance akan membangun koordinasi dengan Freeport secara baik sehingga apa yang sudah diberikan kepada masyarakat dapat dikelola melalui program yang tepat sasaran.

Sebagai Ketua LMHA, Yance akan membangun kerjasama dengan semua paguyuban yang ada di Mimika untuk selalu bersama-sama menjaga suasana agar Mimika aman, tenang dan  damai.

Ia berharap jangan ada lagi yang membuat kegaduhan di daerah ini.

“Saya minta bantuan saudara-saudara semua. Tolong dukung saya. Kalau tanpa dukungan bapak ibu tidak mungkin saya tegak berdiri,”
ujar Yance.

Yance memastikan dirinya siap menegakan harkat dan martabat Suku Kamoro.

Sementara kepada media, Yance mengungkapkan setelah dirinya terpilih Lemasko yang awalnya tigalisme kini menjadi satu. Lembaga ini menjadi cermin atau koridor menunjukan iditentas suku Kamoro.

“Saya akan pimpin lembaga ini lima tahun kedepan lebih bermartabat dan mandiri. Saya akan mengajak saudara-saudara kami bekerja sendiri. Kami harus buktikan kami bisa mandiri,” ujarnya.

Selain itu, Yance berjanji lima tahun kedepan akan menghidupkan kembali budaya Suku Kamoro yang sudah tenggelam nyaris punah agar dapat diketahui oleh anak cucuk serta masyarakat luas sebagai bagian dari pelestarian.

“Keluhan masyarakat, pameran patung seperti apa, itulah yang akan saya kerjakan lima tahun kedepan sesuai visi dan misi saya,” ujarnya.

Menghidupkan kembali budaya Kamoro Kakuru menjadi salah satu poin yang wajib mendapat perhatian dari LMHA. Salah satunya dengan membangun museum untuk menyimpan benda-benda bernilai historis untuk dikunjungi.

Ia menambahkan salah satu program yang akan dilaksanakan melakukan studi banding bagaimana mengatasi persoalan masyarakat Suku Kamoro yang suka jalan-jalan, tidur-tiduran di pasar dan pinggir jalan.

Yance bersama pengurusnya akan bekerja bersama-sama menuntaskan masalah yang dihadapi agar orang Kamoro  harus bangkit menjadi tuan di negerinya sendiri.

Terkait masalah tapal batas adat yang kini dipersoalkan di Kapiraya, Yance mengungkapkan tapal batas sesungguhnya sesuai warisan leluhur sudah memiliki tanda khusus.

“Misalnya Kamoro dengan Deiyai dan Dogiyai sebenarnya mereka sudah tahu batasnya dimana. Hanya ada pihak kedua dan ketiga, karena kami dari dulu tidak pernah perang atau terjadi perselisihan sama seperti kemarin terjadi di bagian barat. Mereka ini termasuk pesisir pantai Selatan,” paparnya.

Yance memastikan akan mengumpulkan semua masyarakat adat di Kapiraya. Bahwa di tempat itu dulu seorang pria bernama Auki asal Kamoro sebagai kepala suku umum menikah dengan seorang wanita dari Paniai. Maka tempat itu diberi nama ‘Auki’, sehingga siapapun yang mempunyai masalah diajak untuk bersama-sama menyelesaikan di tempat itu juga bukan dengan kekerasan.

“Kita dari hati ke hati pahami mereka. Sehingga saya akan berupaya menjaga agar tempat ini aman. Saya ingatkan kepada saudara-saudaraku agar jangan ikut campur dalam hal-hal politik,” pungkasnya. **