Waket IV DPRPT Kunker di Mimika, Dorong Pemkab Usul Kampung Nelayan di Pomako Kelola “Emas Biru”
John NR Gobai berdiskusi dengan warga Kamoro di Pomako Distrik Mimika Baru dalam Kunker, Senin 27 April 2026. (Foto -Istimewa).
Timika,papuaglobalnews.com – Wakil Ketua (Waket) IV DPR Papua Tengah, John NR Gobi, melaksanakan kunjungan kerja (kunker) di Pomako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, pada Senin, 27 April 2026.
John menjelaskan, Kampung Pomako merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, baik yang bermukim di Pomako maupun di kampung-kampung sekitar yang dihuni masyarakat asli Suku Kamoro.
Menurutnya, masyarakat setempat memiliki filosofi hidup “tiga S”, yaitu Sagu, Sampan (Perahu), dan Sungai.
Filosofi tersebut, katanya, harus menjadi pijakan dalam penyusunan program pembangunan, termasuk pengembangan kampung nelayan. Kehadiran pemukiman nelayan dinilai sebagai bentuk nyata dalam mengimplementasikan filosofi tersebut.
Di Pomako sendiri terdapat Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), yang merupakan aset yang dahulu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Mimika. Namun, sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Pemkab Mimika harus melakukan penyerahan Personel, Pendanaan, Sarana dan Prasarana, serta Dokumen (P3D) kepada pemerintah provinsi, yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi untuk PPI Pomako.
Ia menilai masyarakat masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Dengan akses yang relatif mudah, Pomako dinilai layak dijadikan sebagai pusat atau hub kampung nelayan di Mimika.
Di kawasan tersebut, lanjutnya, perlu dibangun berbagai fasilitas penunjang seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), pasar ikan, tempat penampungan dan pengolahan hasil laut, serta fasilitas pendukung lainnya.
Dalam kunjungan kerja tersebut, John juga bertemu dengan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mimika, Klemens Ohoilulin.
Ia menyoroti bahwa di kawasan Pomako terdapat perkampungan masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.
Namun demikian, kampung tersebut hingga kini belum memiliki fasilitas dasar bagi nelayan, seperti tempat tambatan perahu, tempat pelelangan ikan, cold storage, stasiun pengisian BBM, hingga bengkel.
Padahal, potensi perikanan di wilayah tersebut dinilai sangat besar. Laut dan pesisir Pomako menjadi sumber utama penghidupan masyarakat, yang diibaratkan sebagai “kebun” dalam mencari nafkah.
John menegaskan masyarakat Mimika harus didukung untuk mampu mengelola potensi “emas biru” di wilayah perairannya. Salah satu upaya yang diusulkan adalah dengan penyediaan kapal ikan berukuran besar milik pemerintah daerah.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian dari Kementerian Kelautan dan Perikanan agar potensi perikanan di Mimika dan Nabire tidak hanya dimanfaatkan oleh nelayan dari luar daerah. **














