Uskup Bernardus Programkan Paket Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Amor dan Lima Suku Kekerabatan
Timika,papuaglobalnews.com – Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dalam program kerja pastoralnya menyiapkan paket beasiswa Perguruan Tinggi untuk putra-putri Suku Amungme- Kamoro (Amor) dan lima suku kekerabatan di wilayah Keuskupan Timika. Program beasiswa pendidikan ini mulai diterapkan pada tahun 2026 ini.
“Saya ingin betul-betul anak Kamoro dan Amungme mendapat kesempatan pendidikan secara baik. Saya ingin memurnikan karena ada yang mengatasnamakan Kamoro tetapi orang lain yang menikmati, agar 10-20 tahun kedepan anak-anak Kamoro lebih maju sama seperti orang lain,” ujar Uskup Bernardus kepada awak media setelah memimpin perayaan misa Hari Raya Santa Maria Bunda Allah di Gereja Stasi Santo Agustinus Nawaripi, Paroki Santo Stefanus Sempan Timika pada Kamis 1 Januari 2026.
Terkait dengan membenahi seluruh sekolah Katolik di bawah naungan YPPK, Uskup Bernardus sudah menjadwalkan kegiatan Lokakarya Pendidikan pada tanggal 14-17 April 2026 mendatang. Dalam lokakarya tersebut dihadiri tim ahli dan indpenden dengan harapan akan melahiran pikiran dan masukan dalam mengambil kebijakan untuk kemajuan pendidikan Katotilk ,dengan YPPK sebagai roh pendidikan Katolik di Papua untuk dibenahi dan diperbaiki.
Selain membenahi sistem pendidikan, Keuskupan juga akan melakukan Memorandum Of Understanding (MoU) bersama PT Freeport dan Pemerintah Kabupaten Mimika sebagai mitra pendidikan.
MoU ini akan lebih fokus berhubungan dengan kesiapan anggaran dalam program beasiswa yang akan diberikan kepada anak-anak Kamoro-Amungme dan lima suku kekerabatan lainnya, termasuk penyiapakan tenaga gurunya.
Uskup Bernardus mencanangkan program beasiswa tersebut karena lahir dari rasa keprihatinannya terhadap minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) Suku Kamoro, Amungme dari segala aspek profesi dan besarnya dana PT Freeport Indonesia yang dinilai belum memberikan dampak yang besar terhadap pendidikan orang Kamoro dan Amungme.
Uskup Bernardus mengakui telah mengundang biarawan-biarawati untuk berkarya di Keuskupan Timika mengurus pendidikan, terlebih pendidikan bagi putra-putri Kamoro.
Ia menjelaskan, prosentase program beasiswa ini mulai berjalan Juni 2026 dengan porsi lebih besar 70 persen untuk suku Amungme dan Kamoro dan 30 persen untuk suku Papua lainnya.
Melalui program ini, Uskup Bernardus berharap setidaknya tiap tahun ada empat-lima orang yang dididik di sekolah-sekolah yang dikelola lembaga gereja sehingga dalam jangka waktu 10-15 tahun mendatang ada belasan atau puluhan orang Kamoro dan Amungme yang berpendidikan tinggi hingga doktor.
“Kita lihat ada dana besar yang ada dari PTFI melalui YPMAK untuk mengurus pendidikan tapi tidak menyentuh baik anak Kamoro. Pengelolaan tidak fokus, hanya atas nama saja Kamoro tapi orang lain yang nikmati. Tahun 2026 kita akan perbaiki itu dan gereja Keuskupan Timika akan mengambil alih beasiswa tersebut,” terang Uskup.
Dalam menjalankan program ini, Keuskupan melalui panitia akan membuka seleksi calon mahasiswa untuk tamatan SMA-SMK Katolik. Peserta yang lolos seleksi akan dikirim studi di kampus-kampus sesuai dengan pilihan bidang ilmunya. Selama menempuh studi selain akademik juga mendapat pendampingan dari sisi kehidupan rohani dan pelatihan kepemimpinan.
Ia mengakui saat ini Keuskupan Timika bekerjasama Keuskupan Jayupura sedang mengurus izin operasional untuk membuka universitas dengan tujuh fakultas di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Jayapura.
Membuka tujuh fakultas selain filsafat dan teologi untuk memenuhi kebutuhan akan SDM Papua dan Mimika sesuai bidang ilmu yang dibutuhkan.
“Untuk sementara waktu dengan alasan masih keterbatasan SDM dan mempertimbangkan Jayapura sebagai kota studi, kota sejarah, kota tua maka seluruh kegiatan dan aktivitas studi dipusatkan di Jayapura. Nanti ada yang kuliah di Papua ada juga yang kita kirim di luar Papua,” ujar Uskup Bernardus.
Namun kedepan dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah SDMnya sudah tersedia dipindahkan ke Timika.
Ia berharap kedepan orang Kamoro dan Amungme serta lima suku kekerabatan lainnya benar-benar menjadi tuan di negerinya sendiri baik sebagai guru, dokter, perawat, pilot, imam dan profesi lainnya. **











