Selain dana kebersihan jalan, Joel menyebutkan bahwa pada tahun 2026 Distrik Mimika Baru juga mendapat alokasi anggaran sebesar Rp2,5 miliar untuk mendukung operasional bank sampah. Anggaran tersebut digunakan untuk pembiayaan proses pemilahan sampah, pembelian sampah, pembayaran upah petugas, serta pengembangan bank sampah di 11 kelurahan di wilayah Distrik Mimika Baru.

Sampah plastik yang telah dipilah dan dikumpulkan nantinya dijual ke bank sampah induk milik Haji Ilham. Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan kembali untuk membeli sampah dari masyarakat.

Ia berharap masyarakat Mimika mulai membiasakan diri mengumpulkan dan memilah sampah yang memiliki nilai ekonomis agar dapat dijemput oleh petugas bank sampah.

Selain itu, Joel mengungkapkan Distrik Mimika Baru saat ini tengah menyiapkan aplikasi bank sampah guna memudahkan masyarakat melaporkan titik penjemputan sampah. Program inovasi tersebut akan dibiayai dari anggaran Rp200 juta, yang merupakan hadiah juara II tingkat distrik pada lomba Inovasi Daerah yang diselenggarakan Bappeda Mimika tahun 2025 lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika, Jeffri Deda, secara terpisah menyampaikan mulai tahun 2026 penanganan kebersihan jalan telah dialihkan ke masing-masing distrik sesuai arahan Bupati Mimika.

Dengan dialihkannya kewenangan tersebut, Jeffri berharap para kontraktor tidak lagi mendatangi atau memprotes DLH Mimika terkait pengelolaan kebersihan jalan.

“Sekarang silakan berhubungan langsung dengan pemerintah distrik masing-masing,” ujarnya.

Adapun wilayah pelayanan kebersihan jalan meliputi Distrik Wania, Distrik Mimika Baru, Distrik Kuala Kencana, Distrik Iwaka, dan Distrik Kwamki Narama.

Kepada kontraktor Orang Asli Papua (OAP), Jeffri juga mengingatkan agar menghentikan kebiasaan lama menyerahkan pekerjaan kepada kontraktor non-Papua dengan sistem bagi hasil.

“Kalau kebiasaan itu terus dilakukan, tidak akan maju. Saat tidak dapat pekerjaan demo pemerintah, tapi setelah dapat pekerjaan justru diserahkan ke orang lain. Di lapangan kita temui yang bekerja bukan orang Papua. Ditanya alasannya, katanya pemiliknya tidak punya modal,” tegas Jeffri saat ditemui di pangkalan sampah Jalan Cenderawasih, Kamis, 29 Januari 2026. **