Satu persoalan lain yang sering kita hadapi adalah kurangnya kebersamaan. Kita kerap berjalan sendiri-sendiri, terpecah oleh perbedaan kelompok dan kepentingan. Padahal, jika kita mampu duduk bersama, berdialog dengan baik, dan membangun kerja sama, kekuatan kita akan jauh lebih besar.

Pemuda Mimika perlu mengubah cara pandang. Jangan lagi merasa sebagai orang pinggiran. Kita adalah tuan di tanah sendiri. Kita memiliki hak untuk maju, sekaligus tanggung jawab untuk membangun daerah ini.

Saya percaya, jika pemuda Mimika mulai bergerak meski perlahan perubahan pasti akan terlihat. Tidak harus dimulai dari hal besar. Yang terpenting adalah ada kemauan untuk memulai dari hal yang nyata, sederhana, dan berdampak.

Pemuda sebagai tulang punggung bangsa, negara, adat dan agama musti mampu berdiri kokoh serta menolak tindakan yang dapat mengarah pada kehancuran masa depan. Pemuda yang tangguh berani melakukan hal kecil dan jujur berdampak besar pada masa depan.

Jauhkan segala bentuk kebiasaan duduk berkumpul mengonsumsi narkoba, miras, perjudian yang membawa pada kemalasan berpikir, bertindak maupun bekerja terhadap hal-hal positif.

Harapan saya, pemuda Mimika tidak hanya menjadi cerita di masa depan, tetapi menjadi pelaku perubahan hari ini. Mari bekerja, membangun, dan menjaga tanah ini bersama-sama. *