Sanggar Seni Eme Dikiata Iwaka Diundang Tampil di Tiga Negara Benua Eropa, Disbudparekraf Siapkan Hibah Rp2 Miliar
Ia menyebutkan undangan dari KBRI di Belanda ini seharusnya sudah berangkat pada Oktober ini. Namun masih terkendala proses anggaran hibah dari Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbuparekraf) Mimika sedikit terlambat maka jadwal pelaksanaan diundur bulan November.
“Satu dua hari kedepan ini kami lagi tunggu hasil medical check up keluar baru kami urus paspor di Kantor Imigrasi Timika. Setelah ada paspor, saya berangkat ke Jakarta urus visa dan setelah kantongi visa kembali ke Timika jemput tim berangkat ke Jakarta lagi menuju Belanda,” jelas Damianus.
Sesuai jadwal yang sudah ada, tim berada di Den Haag Belanda selama enam hari, di Belgia dua hari kemudian lanjut di Jerman.
Ia juga menyebutkan pameran ukiran dan fashion show pakaian tradisional yang sama akan dilanjutkan tahun 2027.
Sesuai undangan Kedubes Belanda yang diterimanya saat ini meminta melibatkan delapan sanggar perwakilan dari delapan kabupaten di Papua Tengah untuk tampil di lima negara tujuan. Waktu pelaksanaannya pada Bulan Mei.
“Kalau sekarang satu saja kami mewakili Papua Tengah, Mimika dan Indonesia,” katanya.
Ia menyebutkan seluruh biaya keberangkatan 20 peserta Sanggar Eme Dikiata ke Den Haag Belanda senilai Rp2 miliar bersumber dana hibah dari pos anggaran Disbudparekraf Mimika tahun 2026. Melengkapi dokumen pencairan dana hibah itu, dirinya sudah memasukan surat permohonan dari Yayasan Pokai Mimika Wee sebagai naungan sanggar untuk dilampirkan pada proposal dan surat undangan dari KBRI Belanda dengan tembusan Disbudparekraf ke Inspektora Mimika pada hari ini.
Selama di Belanda, Belgia dan Jerman akan menampilkan tarian adat khas Papua, ukiran Kamoro dan fashion show pakaian tradisional.
Ia mengakui saat ini di Belanda panitia sudah menyiapkan tempat khusus untuk Sanggar Seni Pokai Mimika Wee memajang ukiran, anyaman dan pakaian tradisional Kamoro. Dalam pameran itu akan membawa kurang lebih 20 ukiran Kamoro.
Kaitan dengan kegiatan ini, Damianus mengungkapkan sudah beberapa kali melakukan zoom meeting.
“Kami bersyukur sekali sekarang kita sudah punya tempat khusus penjualan ukiran Kamoro di Belanda. Rencana pameran terbesar dilaksanakan Mei tahun 2027 nanti. Undangan untuk kita ikut sudah ada,” tuturnya. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.






















