Sah dan Adil
Oleh : Laurens minipko
Saya ingat satu kisah lama. Sangat lama. Dari Romawi.
Kaisar Caligula (37-47 M) punya kuda kesayangan. Namanya Inciatus. Kuda ini tidak sekadar diberi kandang bagus. Ia diangkat jadi pejabat publik. Konsul. Jabatan tinggi.
Sejarah mencatatnya. Bukan sebagai prestasi. Tapi sebagai peringatan.
Secara hukum saat itu, Caligula sah. Ia kaisar. Titik.
Tapi publik Roma tahu, ada yang salah bukan di hukum. Dirasa keadilan.
Kuda bukan soal kuda. Ini soal kekuasaan yang mulai bercanda dengan negara.
Kisah itu terasa jauh. Sampai saya membaca struktur BUMD Mimika. Katanya: karateker. Sementara. Enam bulan.
Komisarisnya. Direkturnya. Dan posisi yang lainnya. Yang pasti tak ada satu pun berdarah Amungme dan Kamoro. Pemilik tanah, pemilik cerita, pemilik luka.
Pertanyaan sederhana pun muncul: ini sah atau adil?
Kalau sah, mungkin iya. Surat bisa diteken. Regulasi bisa dicari. Tafsir bisa dirapikan.
Tapi adil? Itu urusan lain.
BUMD bukan koper pribadi.
Ia dibentuk untuk mengelola kepentingan publik. Termasuk saham yang berasal dari tanah adat ini.
Termasuk harapan orang-orang yang selama ini hanya jadi penonton di negeri sendiri.
Di titik itu, jabatan bukan lagi soal kompetensi. Ia soal rasa .
Saya membaca pernyataan Rafael Taorakeyau.
Bahasa lurus. Tidak akademik. Tidak diplomatis.
“Kami sudah kasih hati. Jangan ambil jantung lagi.”














