Ia menegaskan bahwa umat Katolik dipanggil untuk meneladani sikap penyerahan diri Maria, bukan memaksakan ambisi pribadi kepada Tuhan. “Rencana Tuhan jauh lebih besar dan indah daripada apa yang kita pikirkan,” tegasnya.

Dalam konteks sosial Papua, Uskup Bernardus juga menyinggung kondisi tanah Kamoro yang kaya akan sumber daya alam, namun manfaatnya lebih banyak dinikmati pihak luar.

Ia mengkritik praktik ketidakadilan yang mengatasnamakan orang Kamoro dan Amungme, termasuk dalam birokrasi pemerintahan dan pelaksanaan Otonomi Khusus.

“Kebohongan dan ketidakadilan seperti ini tidak akan bertahan. Tuhan akan mengambilnya kembali,” ujarnya dengan tegas.

Ia mengingatkan para pendatang di Papua untuk menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan, serta tidak mengikuti skenario yang menindas masyarakat asli Papua demi keuntungan pribadi.

Uskup Bernardus juga menyampaikan komitmennya untuk memperjuangkan lahirnya generasi Kamoro dan Amungme yang berpendidikan tinggi bahkan hingga jenjang doktor dan sebagai pastor agar kelak memimpin Gereja dan masyarakat Papua secara bermartabat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sikap menghormati tuan rumah.

“Tamu harus menghargai tuan rumah, bukan mengambil alih semuanya. Jika itu terjadi, akan lahir konflik dan penolakan,” pesannya.

Ia menutup homili dengan ajakan agar umat Stasi Santo Agustinus Nawaripi membangun stasi tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual, sehingga iman umat semakin dewasa dan Gereja sungguh menjadi Tubuh Mistik Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. **