Thomas berharap melalui kegiatan rohani ini dapat semakin memotivasi anak-anak untuk terus semangat bersekolah karena dukungan pendidikan sudah tersedia. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter, sikap dan mental anak-anak agar menjadi pribadi yang lebih berani, bertanggungjawab, disiplin serta memiliki sikap sopan santun dan saling menghargai.

Thomas juga menyampaikan terima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah menyalurkan dana kemitraan melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Dukungan dana tersebut dinilai sangat membantu pembiayaan pendidikan anak-anak Suku Kamoro dari lima kampung yang merupakan masyarakat yang terdampak langsung dari aktivitas pertambangan.

Ia berharap PT Freeport Indonesia melalui YPMAK terus memberikan dukungan bagi pembangunan sumber daya manusia (SDM) anak-anak Kamoro.

“Alam sebagai sumber kehidupan masyarakat kami memang sudah mengalami kerusakan, tetapi melalui pendidikan kita berupaya menyelamatkan generasi anak-anak Kamoro agar suatu saat dapat bekerja di instansi pemerintah maupun sektor swasta di Mimika,” ujarnya.

Ia juga menambahkan keberadaan YPKB secara tidak langsung turut membantu Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menyiapkan masa depan pendidikan anak-anak Kamoro.

“Kami berharap suatu saat pemerintah bisa membuka diri untuk bekerja sama dengan YPKB dalam berbagai bentuk, termasuk memberikan kesempatan kepada anak-anak Kamoro untuk masuk sekolah kedinasan agar setelah selesai pendidikan mereka dapat kembali mengabdi di tanahnya sendiri,” harapnya.

Sementara itu, RP. Markus Apriyono, SCJ menjelaskan tema retret “Allah Sumber Pembaharuan Relasi Dalam Hidup (Diri Sendiri), Keluarga, Sesama dan Allah” mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Menurutnya, seseorang mungkin memiliki kemampuan akademik yang baik, namun jika karakter dan kepribadiannya tidak selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, maka kehidupan tidak akan berjalan seimbang.

“Dalam pembaharuan hidup, manusia perlu menjaga keseimbangan relasi dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Jika relasi dengan diri sendiri tidak baik, maka hidup akan terasa tidak seimbang,” jelasnya.

Ia menambahkan manusia perlu menyadari pentingnya hidup dalam keluarga, membangun relasi dengan sesama, saling menolong dan berjalan bersama, bukan saling membenci.

Selain itu manusia juga perlu membangun relasi yang baik dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Menurutnya, Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia sekecil apapun dengan tujuan, termasuk manusia yang diciptakan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan memuliakan Tuhan. **