Timika,papuaglobalnews.com – Ratusan anak usia SD, SMP, SMA hingga mahasiswa dari Suku Kamoro yang berasal dari lima kampung mengikuti kegiatan retret selama tiga hari yang dimulai pada Senin 9 Maret 2026) hingga Rabu 11 Maret 2026.

Kegiatan retret yang berlangsung di Rumah Retret Loresa SCJ, Kompleks Biara Santo Yosef SP3, ini digagas oleh Yayasan Pendidikan Kamoro Bangkit (YPKB). Rumah retret tersebut dikelola oleh para pastor dari Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan berada di wilayah Kelurahan Karang Senang, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Retret mengangkat tema “Allah Sumber Pembaharuan Relasi Dalam Hidup (Diri Sendiri), Keluarga, Sesama dan Allah)”. Para peserta mendapatkan materi dari beberapa pemateri, yakni RP. Markus Apriyono, SCJ yang membawakan materi dengan pendekatan permainan, RP. Toni, SCJ yang menyampaikan materi tentang keluarga sebagai tempat pertama belajar kasih serta menjadi sahabat yang membawa kebaikan, serta Sisil yang membawakan materi tentang melatih kemampuan bercerita dan menjauhkan penggunaan teknologi yang membahayakan masa depan.

Ketua YPKB, Thomas Too menjelaskan kegiatan retret ini merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap tahun bagi anak-anak Suku Kamoro dari lima kampung, yakni Koperapoka, Nawaripi, Nayaro, Ayuka dan Tipuka.

Menurut Thomas, kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan masa Prapaskah dengan tujuan pertama untuk membantu anak-anak semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua, melalui kegiatan ini anak-anak dapat membangun relasi dan saling mengenal satu sama lain sebagai anggota keluarga dari lima kampung tersebut. Ketiga, kegiatan ini bertujuan melatih sikap, mental, serta kepribadian anak-anak agar semakin berani dan percaya diri dalam mengejar cita-cita melalui pendidikan.

“Lewat kegiatan ini mereka bisa bermain bersama dalam suasana penuh sukacita. Selain itu juga merangsang pola pikir mereka sejak dini untuk mengenal jati diri mereka yang sesungguhnya,” jelas Thomas.

Ia menambahkan retret ini juga membantu membangkitkan minat dan semangat anak-anak untuk mengenali potensi diri masing-masing serta menyadari pentingnya pendidikan di kampung-kampung mereka.

Melalui kegiatan ini para peserta juga dilatih untuk membangun relasi, menceritakan pengalaman hidup, memahami kekurangan diri, mengelola emosi serta menerima berbagai nilai positif lainnya yang dapat membantu perkembangan karakter mereka.

Thomas menjelaskan pelaksanaan retret dibagi dalam tiga hari berdasarkan kelompok usia. Hari pertama diperuntukkan bagi anak-anak kelas 1 hingga kelas VI SD dari Kampung Koperapoka dan Tipuka. Hari kedua diikuti anak-anak SD dari Kampung Nawaripi dan Ayuka. Sedangkan hari ketiga diikuti para pelajar tingkat SMP, SMA hingga mahasiswa dari kelima kampung tersebut.

Anak-anak dari lima kampung yang mengikuti retret ini saat ini bersekolah di berbagai SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi yang tersebar di Kota Timika.

“Jumlah peserta hari pertama lebih dari 100 anak, hari kedua juga hampir 100 anak, sedangkan hari ketiga sekitar 50 peserta,” ujarnya.

Ia menambahkan seluruh biaya pendidikan anak-anak dari lima kampung tersebut ditanggung oleh YPKB.

Thomas berharap melalui kegiatan rohani ini dapat semakin memotivasi anak-anak untuk terus semangat bersekolah karena dukungan pendidikan sudah tersedia. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter, sikap dan mental anak-anak agar menjadi pribadi yang lebih berani, bertanggungjawab, disiplin serta memiliki sikap sopan santun dan saling menghargai.

Thomas juga menyampaikan terima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah menyalurkan dana kemitraan melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Dukungan dana tersebut dinilai sangat membantu pembiayaan pendidikan anak-anak Suku Kamoro dari lima kampung yang merupakan masyarakat yang terdampak langsung dari aktivitas pertambangan.

Ia berharap PT Freeport Indonesia melalui YPMAK terus memberikan dukungan bagi pembangunan sumber daya manusia (SDM) anak-anak Kamoro.

“Alam sebagai sumber kehidupan masyarakat kami memang sudah mengalami kerusakan, tetapi melalui pendidikan kita berupaya menyelamatkan generasi anak-anak Kamoro agar suatu saat dapat bekerja di instansi pemerintah maupun sektor swasta di Mimika,” ujarnya.

Ia juga menambahkan keberadaan YPKB secara tidak langsung turut membantu Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menyiapkan masa depan pendidikan anak-anak Kamoro.

“Kami berharap suatu saat pemerintah bisa membuka diri untuk bekerja sama dengan YPKB dalam berbagai bentuk, termasuk memberikan kesempatan kepada anak-anak Kamoro untuk masuk sekolah kedinasan agar setelah selesai pendidikan mereka dapat kembali mengabdi di tanahnya sendiri,” harapnya.

Sementara itu, RP. Markus Apriyono, SCJ menjelaskan tema retret “Allah Sumber Pembaharuan Relasi Dalam Hidup (Diri Sendiri), Keluarga, Sesama dan Allah” mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Menurutnya, seseorang mungkin memiliki kemampuan akademik yang baik, namun jika karakter dan kepribadiannya tidak selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, maka kehidupan tidak akan berjalan seimbang.

“Dalam pembaharuan hidup, manusia perlu menjaga keseimbangan relasi dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Jika relasi dengan diri sendiri tidak baik, maka hidup akan terasa tidak seimbang,” jelasnya.

Ia menambahkan manusia perlu menyadari pentingnya hidup dalam keluarga, membangun relasi dengan sesama, saling menolong dan berjalan bersama, bukan saling membenci.

Selain itu manusia juga perlu membangun relasi yang baik dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Menurutnya, Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia sekecil apapun dengan tujuan, termasuk manusia yang diciptakan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan memuliakan Tuhan. **