Saya dan kakak-kakak saya anak dari Mare Bupu. Mare Bupu anak dari Pati Nago. Pati Nago dan saudaranya Muga Selu adalah anak-anak dari Pere Bhoko, saudaranya Legu Bhoko. Pere Bhoko dan Legu Bhoko masih memiliki satu saudara yakni Baghi Bhoko. Baghi Bhoko melahirkan Ule Ruda dan Leda Ruda. Ule Ruda melahirkan Baghi Dhogi yang di Feo (Bapanya Magaretha Ule/istri Reli Kiko di Paubuku). Leda Ruda melahirkan ema Baghi Leda. Baghi Leda melahirkan Dua Puse, Muga Wini, Petrus Due dan Ande Ome(semua sudah meninggal).

Bila ditelusuri lebih jauh ternyata anak cucu Legu Bhoko, Baghi Bhoko dan Pere Bhoko sudah banyak yang bekerja di ladang anggur Tuhan. Anak cucu Pere Bhoko: Rm. Stef, Rm. Richard Muga, Sr. Matilda OSU, almarhum Sr. Richarda Ssps, Sr. Faustin, Sr. Margareta Mare Ssps dan Diakon Firstson Kega OFM. Anak cucu Baghi Bhoko ada Rm. John Muga O,Carm. Dan kini muncul P. THEOFILUS WOI SOLI dari turunan Legu Bhoko.

Sejak dulu orang-orang Boamuzi memiliki filosofi hidup: “Too jogho waga sama, kolo sa toko, aze sa tebu. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, seia sekata”. Saya sudah sekian lama meninggalkan Kampung Boamuzi. Tapi saya selalu ingat, bangga dan tetap mencintai Boamuzi. Jangan lupa kampung kelahiran! Saat kita meninggal yang tertulis di salib atau nisan adalah kampung dan tanggal kelahiran serta kampung dan tanggal kematian!

Saya ingat saat misa perdana di lapangan bola kaki Kurubuli Feo Sarasedu minggu 7 September 1997. Semua orang Boamuzi diberitahu sebagai keluarga. Mereka datang penuh sukacita. Saat jabat tangan mereka membisikan pesan yang sama.

“Tua muzi mae rebho nua kita Boamuzi. Kau banga Boamuzi. La’a misa zale nua kita. Ngasi utu hoga da olo pota. Ngazi utu kami da kaza tua ne’e kema uma. Laka ana ebu kita, robha wengi zua wi be’o go buku sura, wi dheko logo kau, kaza tua ena napu tua Ga’e Dewa”.

Artinya imam baru jangan lupa kampung kita Boamuzi. Engkau anak Boamuzi. Romo mempersembahkan ekaristi di kampung kita dan mendoakan mereka yang sudah meninggal. Doakan kami yang bekerja di ladang dan menyadap tuak. Semoga ada panggilan baru dari “Napu tua Boamuzi, lahan pohon enau, ladang anggur” untuk bekerja di “Napu Tua, lahan tempat iris tuak, ladang anggur Tuhan”.

Pater Theofilus Woi Soli CMF. Proficiat atas tahbisan imamatmu. Selamat merayakan ekaristi perdana di kampung kelahiran kita Boamuzi. KAU TUA MUZI PU’U DIA NAPU TUA BOAMUZI. Engkau imam baru dari ladang tuak Boamuzi. Boamuzi jaman dulu merupakan tempat tujuan orang mencari dan membeli tuak. Boamuzi hari ini mulai perlahan menjadi ladang persemaian orang-orang yang bekerja di kebun anggur Tuhan.

Kita tetap saling mendoakan. Boamuzi adalah Bethlehem kita. Semoga hari ini, Kamis 6 Nopember 2025 kampung kita menjadi “bayith atau rumah dan lechem artinya roti”. Semoga hari ini kampung, rumah dan tenda pesta syukur misa perdana Boamuzi menjadi rumah roti dan rumah makanan. Para undangan dikuatkan oleh ekaristi yang disembahkan TUA MUZI. Mereka diteguhkan oleh makanan jasmani yang siapkan keluarga besar Boamuzi. Mereka mengalami sukacita lewat musik dan tarian meriah. Proficiat dan Tuhan memberkati selalu.

Kirchgasse 4, 5074 Eiken AG. **