Timika,papuaglobalnews.com – Upaya percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, menunjukkan hasil yang menggembirakan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data tren kasus malaria periode 2020–2025, angka positivity rate (PR) malaria di Mimika berhasil ditekan secara signifikan hingga mencapai 14,62 persen pada tahun 2025.

Meski demikian, jumlah masyarakat yang menjalani pemeriksaan malaria mengalami peningkatan tajam pada tahun 2025, tercatat sebanyak 1.296.868 orang. Meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 676.924 orang. Dari total pemeriksaan tahun 2025, ditemukan 189.593 kasus positif malaria.

Capaian ini terungkap dalam Rapat Evaluasi Program Malaria Tahun 2026 yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Rizal Ubra, dan dihadiri para kepala serta perwakilan dari 26 Puskesmas. Kegiatan tersebut berlangsung di salah satu hotel di Timika, Selasa 10 Februari 2026.

Melalui Penanggung Jawab Program (Pj) Malaria Dinkes Mimika, Imelda Ohoilejaan menjelaskan, meskipun secara jumlah kasus positif masih tergolong tinggi, peningkatan cakupan pemeriksaan berdampak langsung terhadap penurunan rasio penularan malaria.

“Hal ini terlihat dari tren positivity rate malaria yang terus menurun dalam lima tahun terakhir,” jelas Imelda dalam pemaparannya.

Ia merinci, pada tahun 2020 PR malaria di Mimika masih berada di angka 42,44 persen. Angka tersebut sedikit menurun pada tahun 2021 menjadi 41,84 persen. Penurunan yang lebih signifikan terjadi pada tahun 2022 dengan PR sebesar 33,17 persen, dilanjutkan tahun 2023 sebesar 30,65 persen, dan kembali menurun pada tahun 2024 menjadi 23,27 persen. Puncaknya, pada tahun 2025 PR malaria berhasil ditekan hingga 14,62 persen.

Penurunan PR ini menunjukkan efektivitas berbagai strategi pengendalian malaria yang telah dijalankan, antara lain peningkatan skrining massal, penguatan layanan kesehatan, serta intervensi pencegahan di wilayah-wilayah endemis.

Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten Mimika bersama para pemangku kepentingan masih dihadapkan pada tantangan besar, mengingat malaria tetap menjadi salah satu masalah kesehatan utama di wilayah ini.

Konsistensi program, peningkatan edukasi masyarakat, serta pengendalian lingkungan dinilai menjadi kunci utama dalam mencapai target eliminasi malaria secara berkelanjutan hingga tahun 2030.

Sementara itu, Reynold Rizal Ubra menegaskan bahwa program percepatan eliminasi malaria di Mimika akan terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang guna menekan angka penularan hingga memenuhi standar eliminasi nasional.

“Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memperkuat pelayanan di Puskesmas, terutama dengan memperpendek waktu tunggu pasien, memberikan edukasi agar pasien minum obat hingga tuntas sesuai jadwal, serta menempatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas ke setiap Puskesmas Pembantu (Pustu),” jelasnya.

Ia menambahkan, program ini menargetkan setiap kampung memiliki satu Pustu yang dilengkapi dengan tenaga dokter. Upaya mendekatkan pelayanan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, sehingga masyarakat lebih mudah mengakses fasilitas kesehatan tanpa harus menempuh jarak jauh dan antre lama di Puskesmas. Dengan kualitas pelayanan Pustu yang setara dengan Puskesmas, masyarakat diharapkan lebih memilih berobat di fasilitas terdekat.

Selain itu lanjut Reynold dalam mencegah malari perlu mengubah pola perilaku hidup sehat menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, menggunakan kelambu serta meningkatkan fogging baik oleh petugas kesehatan maupun secara mandiri oleh masyarakat sendiri dengan mendapat pengawasan dari Dinkes.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Mimika, Linus Dumatubun, melaporkan bahwa malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Tanah Papua, khususnya Kabupaten Mimika.

Berdasarkan data, pada tahun 2023 tercatat sebanyak 145.742 kasus malaria. Jumlah ini meningkat pada tahun 2024 menjadi 161.398 kasus, dan kembali meningkat pada tahun 2025 hingga menembus 182.980 kasus, menjadikan Mimika sebagai daerah dengan jumlah kasus malaria tertinggi di Indonesia. Peningkatan ini sejalan dengan tingginya cakupan pemeriksaan yang mencapai 1.296.868 orang pada tahun 2025.

Menurut Linus, peningkatan jumlah kasus dalam tiga tahun terakhir berkorelasi erat dengan peningkatan signifikan jumlah pemeriksaan malaria. Pada tahun 2025, Kabupaten Mimika mencatat jumlah pemeriksaan tertinggi, meski masih di bawah target nasional yang ditetapkan lebih dari 2 juta pemeriksaan.

Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia secara nasional telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya eliminasi malaria menuju tahun 2030. Pada tahun 2021, sebanyak 374 dari total 541 kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai status eliminasi malaria, dengan hanya 26 kabupaten/kota yang masih masuk dalam kategori endemis tinggi.

Pada tahun yang sama, jumlah kasus malaria di Indonesia tercatat sebanyak 304.607 kasus dengan Annual Parasite Incidence (API) sebesar 1,12 per 1.000 penduduk. Lebih dari 50 persen kasus malaria tersebut dilaporkan berasal dari Provinsi Papua Tengah. Oleh karena itu, percepatan eliminasi malaria di Papua Tengah, khususnya Mimika, menjadi prioritas nasional.

Salah satu pilar utama strategi eliminasi malaria Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah memastikan akses universal terhadap pelayanan malaria, meliputi kegiatan pencegahan, diagnosis, terapi, ketersediaan logistik, serta pencatatan dan pelaporan kasus secara akurat.

Sejalan dengan tujuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan telah melaksanakan berbagai upaya pengendalian malaria, antara lain pemeriksaan darah melalui layanan drive thru, kunjungan rumah, survei kontak serumah, serta pengendalian vektor melalui kegiatan larvasidasi dan Indoor Residual Spraying (IRS).

Upaya-upaya tersebut akan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi komprehensif menuju eliminasi malaria yang berkelanjutan di Kabupaten Mimika. **