Perlawanan Bukan Dosa: Nalar yang Terluka di Tanah Mimika
Menghidupkan Nalar yang Luka
Dalam wajah Rosa Luxemburg (Filsuf Kaum Buruh), kita membaca satu kutipan. “Bukan teori yang menciptakan gerakan, tetapi gerakanlah yang membentuk teori baru.” Para moker tidak sedang menulis buku teori. Tapi keheningan mereka adalah filsafat yang menuntut tanggapan. Mereka bukan sekadar korban kebijakan atau angka statistik. Mereka adalah tubuh-tubuh yang menolak dilupakan, dan karena itulah, mereka menjadi teori yang hidup tentang bagaimana nalar yang dilukai bisa menjadi dasar perlawanan yang sah.
Rosa mengajarkan bahwa teori sejati lahir dari denyut konflik nyata. Dalam tubuh-tubuh para moker, tersimpan percikan api itu. Gerakan yang lahir dari luka, bukan dari ruang seminar. Mereka tidak menunggu validasi ilmiah, sebab mereka sendiri adalah argument yang berjalan yang menolak tunduk pada diam yang dipaksakan.
Kutipan dari Pidato DPRK
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa memberikan rekomendasi kepada Bupati dan Wakil Bupati, selaku pimpinan daerah, untuk segera memperbaiki dan memberikan atensi khusus terhadap sistem perekrutan dan pengangkatan karyawan di lingkungan perusahaan swasta maupun PT Freeport yang terkesan sangat tertutup.
Perekrutan harus sesuai dengan aturan yang berlaku, dan kami berharap prioritas diberikan kepada putra-putri daerah asli Papua, khususnya mereka yang lahir dan besar di Mimika.
Terkait sengketa kasus mogok kerja karyawan Freeport dan kontraktor yang telah terbengkalai sejak tahun 2017, kami mendorong Pemerintah Daerah, melalui Dinas Tenaga Kerja, untuk menindaklanjuti agar dapat dicapai hasil yang lebih berpihak kepada karyawan mogok. Dinas Tenaga Kerja juga diminta mengatur proses penerimaan tenaga kerja baru di area PT Freeport Indonesia, agar lebih berpihak kepada calon tenaga kerja dari tujuh suku, OAP lainnya, dan anak-anak kelahiran Mimika.
Saatnya Negara Mendengar
Jika benar lima fraksi DPRK telah bersuara, maka Pemerintah Kabupaten Mimika tidak bisa lagi sembunyi di balik prosedur. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Tidak ada alasan untuk melupakan karena terlalu lama. Ini waktunya menegaskan.
Mereka yang melawan bukan musuh negara. Mereka adalah anak-anak tanah ini, yang terlalu lama menahan perih dalam diam. Dan kepada negara, kita ulangi sekali lagi. Perlawanan mereka bukan dosa. Ia adalah nalar yang telah dilukai dan kini meminta keadilan. (Isi tulisan tanggung jawab penulis)














