Geradus berharap konflik serupa tidak kembali terulang dan meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak bekerja sama mempercepat proses adat perdamaian.

Ia menegaskan posisinya netral dan tidak memihak salah satu kubu karena keduanya masih memiliki hubungan keluarga.

“Saya berdiri di tengah-tengah dan berharap apa yang kami sampaikan didengar oleh kedua belah pihak,” ujarnya.

Pendeta Albert Tinal dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa dengan adanya kesediaan kedua pihak untuk berdamai, konflik ini harus segera diakhiri demi kebaikan bersama.

Pantauan media ini, suasana usai pertemuan berlangsung penuh kekeluargaan dan cair. Para peserta saling berjabat tangan dan tersenyum, menandakan adanya kelegaan dan harapan baru menuju perdamaian.

Sementara Nenu Tabuni, Pj. Sekda Kabupaten Puncak mengawali pertemuan itu menjelaskan, bahwa konflik di Kwamki Narama telah berlangsung hampir tiga bulan sejak Oktober-Desember 2025 dan Januari 2026 masuk bulan keempat. Banyak pihak melalui media mendesak pemerintah segera menyelesaikan konflik tersebut.

“Ketika perang terjadi, pemerintah tidak tinggal diam. Kami terus berkoordinasi dengan Kapolda, Danrem, Kapolres, Dandim, Kepala Distrik Kwamki Narama, serta Forkopimda Papua Tengah untuk mendamaikan kedua belah pihak,” tegas Nenu.

Ia menambahkan bahwa sesuai perintah langsung Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, Bupati Mimika dan Bupati Puncak diminta segera menangani konflik tersebut secara serius.

Nenu juga menjelaskan terkait proses pembakaran jenazah Jeri Murib yang sempat menjadi polemik karena masing-masing kubu saling menolak bertanggungjawab. Karena tidak adanya kesepakatan dalam rapat pada Senin 5 Januari 2026, pemerintah akhirnya mengambil alih jenazah dari RSUD Mimika untuk proses pembakaran pada Selasa 6 Januari 2026 di Kwamki Narama, mengingat kondisi jenazah telah memasuki hari keempat. Dalam pembakaran itu rencananya 9.30 WIT namun karena terjadi penolakan oleh kubu Dang sehingga sempat terjadi molor.

“Setelah proses pembakaran, pada sorenya sekira pukul 16.00 WIT kami keluar dari Kwamki Narama melanjutkan pertemuan dengan kelompok Dang, dan mereka sepakat berdamai dengan catatan pihak Newengalem mengakui membakar jenazah Jeri Murib,” ungkap Nenu.

Ia menegaskan pertemuan ini merupakan langkah cepat pemerintah dalam mendorong perdamaian dengan tetap memberikan ruang bagi keluarga untuk menyampaikan aspirasi.

Dengan nada tegas, Nenu juga mengingatkan agar stigma negatif terhadap masyarakat Puncak sebagai pembuat kekacauan dapat dihentikan.

“Tidak mungkin orang dari luar datang untuk menyelesaikan konflik ini. Perdamaian harus lahir dari kita sendiri,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik ini terjadi di wilayah Kabupaten Mimika, sehingga seluruh pengamanan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Mimika.

“Kita berharap semua konflik dihentikan agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Jika masih terjadi perang, maka persoalan ini akan berujung pada proses hukum,” tegas John. **