Abraham Y. Kateyau, Pj. Sekda Mimika melantik Pengurus Forjamas Mimika Periode 2025-2030 di graha Eme Neme Yauware, Selasa 27 Januari 2026. (Foto-papuaglobalnews.com/Anton Juma Songa).

 

Timika,papuaglobalnews.com – Pengurus Forum Jawa, Madura dan Sunda (Forjamas) Kabupaten Mimika Papua Tengah Periode 2025–2030 resmi dilantik pada 27 Januari 2026. Prosesi pelantikan dilakukan oleh Pj. Sekda Mimika Abraham Y. Kateyau mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob, bertempat di Graha Eme Neme Yauware.

Pelantikan ditandai dengan penyerahan bendera pataka organisasi oleh Pj. Sekda kepada Ketua Forjamas Mimika, H. Bahroni.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh pengurus Forjamas yang hari ini resmi dilantik. Amanah ini bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan, memperkuat nilai budaya, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ujar Abraham dalam sambutan.

Ia menegaskan Forjamas memiliki peran strategis sebagai wadah pemersatu warga lintas kultur.

“Nilai luhur seperti gotong royong, saling menghormati, toleransi, dan kebersamaan yang diwariskan leluhur Jawa, Madura dan Sunda merupakan modal sosial yang berharga dalam mendukung pembangunan daerah,” ungkapnya.

Abraham juga berharap Forjamas dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menjaga kondusivitas wilayah, memperkuat kesatuan, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan sosial, budaya dan kemasyarakatan.

“Rawatlah kebersamaan, junjung tinggi persaudaraan, dan jadilah teladan di tengah masyarakat,” pesannya.

H. Bahroni, Ketua Forjamas Mimika dalam sambutan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah daerah, para tokoh, serta masyarakat Jawa, Madura dan Sunda yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, lahirnya Forjamas tidak terlepas dari dinamika sosial yang berkembang di Mimika serta kebutuhan warga akan ruang dialog dan sinergi.

“Forum ini lahir dari diskusi atau ngopi bareng beberapa tokoh Jawa, Madura dan Sunda, yang kemudian bertindak sebagai pendiri. Diskusi tersebut dilatarbelakangi dinamika kehidupan masyarakat, mulai dari sosial, kesejahteraan, keagamaan, perekonomian hingga politik,” kata Bahroni.