Opini: Hidup Ini Hanya Satu Kali, Hargai Kehidupan dan Selamatkan Sesama Manusia Sebagai Ciptaan Tuhan yang Mulia
Oleh: Pdt Deserius Adii , M.Th .
SETELAH melihat berbagai peristiwa kekerasan kemanusiaan yang terjadi di Tanah Papua, baik konflik sosial antara sesama Orang Asli Papua (OAP), konflik antarkelompok masyarakat, maupun kekerasan dalam situasi konflik bersenjata yang melibatkan aparat keamanan TNI/POLRI dan kelompok TPNPB/OPM, kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan kembali nilai kehidupan manusia. Berbagai bentuk kekerasan tersebut berpotensi mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, penderitaan keluarga, pengungsian, ketakutan, serta hilangnya rasa aman di tengah masyarakat.
Sungguh menyedihkan apabila sesama manusia yang seharusnya hidup dalam persaudaraan justru saling menyerang, melukai, bahkan menghilangkan nyawa satu dengan yang lain.
Lebih memprihatinkan lagi apabila persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah adat, pendekatan kemanusiaan, dan penegakan hukum serta Dialog Damai justru berkembang menjadi pertumpahan darah yang mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah.
Di tengah kenyataan ini, kita harus bertanya kepada diri sendiri: apakah kita dilahirkan hanya untuk saling menyakiti? Apakah Tuhan memberikan kehidupan kepada manusia supaya manusia saling membunuh? Apakah persoalan pribadi, dendam keluarga, perbedaan suku, kepentingan kelompok, atau pertentangan politik harus dibayar dengan nyawa manusia?
Tentu tidak! Hidup ini hanya satu kali, dan setiap manusia memiliki hak untuk hidup, memperoleh perlindungan, serta menjalani kehidupannya dengan aman dan bermartabat. Tidak ada seorang pun yang boleh menganggap kehidupan orang lain tidak berharga hanya karena perbedaan identitas, pandangan, atau kepentingan.
Alkitab dalam Kejadian 1:27 mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, kehidupan manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Karena itu, merendahkan, menyakiti, atau merampas kehidupan sesama merupakan persoalan serius yang bertentangan dengan panggilan untuk mengasihi dan memelihara kehidupan.
Tanah Papua tidak membutuhkan lebih banyak korban, tetapi membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia menyelamatkan kehidupan. Papua tidak membutuhkan generasi yang mewarisi dendam, tetapi generasi yang mewarisi kasih, keadilan, persaudaraan, dan perdamaian. Kekuatan masyarakat Papua tidak seharusnya diukur dari kemampuan untuk menyerang dan mengalahkan sesama, melainkan dari keberanian untuk mengendalikan diri menyelesaikan persoalan secara bermartabat, serta melindungi mereka yang berada dalam bahaya.
Ketika terjadi konflik sosial antara sesama Orang Asli Papua, kita perlu menyadari bahwa setiap korban adalah manusia yang memiliki keluarga, orang tua, anak-anak, saudara, serta masa depan. Demikian pula dalam situasi konflik bersenjata, keselamatan warga sipil harus menjadi perhatian utama. Semua pihak yang terlibat wajib menghormati kehidupan manusia dan mematuhi ketentuan hukum yang berlaku. Dugaan pelanggaran harus diperiksa secara objektif, dan setiap pihak yang terbukti bertanggungjawab harus diproses sesuai hukum.
Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Kita tidak boleh membiarkan kematian manusia hanya menjadi berita yang dilupakan setelah beberapa hari. Di balik setiap nama korban, ada kehidupan yang berharga, keluarga yang berduka, dan masai depan yang tidak lagi dapat dijalani seperti sebelumnya.
Oleh sebab itu, setiap peristiwa kekerasan harus menjadi bahan refleksi bersama bagi pemerintah, aparat keamanan TNI/POLRI, kelompok TPNPB/OPM, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, dan seluruh masyarakat. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah kekerasan, melindungi warga sipil, menyelesaikan persoalan secara adil, serta membangun perdamaian yang nyata dan berkelanjutan.
Hidup ini adalah anugerah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Selama kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, marilah kita menggunakan kesempatan tersebut untuk saling menolong, menguatkan, melindungi, dan menyelamatkan satu dengan yang lain.
Maka dengan itu penulis menawarkan saran sebagai bahan refleksi bersama:
- Menghargai kehidupan setiap manusia sebagai anugerah Tuhan dan tidak menjadikan perbedaan suku, keluarga, kelompok, maupun pandangan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.
- Menghentikan konflik sosial antara sesama Orang Asli Papua dengan mengutamakan dialog, musyawarah adat, mediasi, dan penyelesaian hukum yang adil, bukan pembalasan dendam.
- Mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata untuk menghormati kehidupan manusia, melindungi warga sipil, dan menghindari tindakan yang membahayakan masyarakat.
- Mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menangani setiap kasus kekerasan secara profesional, transparan, dan adil serta memastikan perlindungan dan pemulihan bagi para korban.
- Mengajak tokoh adat dan tokoh agama untuk menjalankan peran sebagai pendamai, mencegah provokasi, mempertemukan pihak-pihak yang bertikai, dan memulihkan hubungan persaudaraan yang rusak.
- Menghentikan pewarisan dendam kepada generasi muda dengan mengajarkan pengendalian diri, pengampunan, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
- Membangun kepedulian sosial dengan menolong korban, mendampingi keluarga yang berduka, melindungi kelompok rentan, dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak serta masyarakat.
- Menjadikan gereja, keluarga, lembaga adat, sekolah, dan pemerintah sebagai pusat pendidikan perdamaian agar setiap orang memahami bahwa keberanian sejati bukanlah kemampuan untuk membunuh, melainkan kesediaan untuk menjaga dan menyelamatkan kehidupan.
- Marilah kita merenungkan bahwa hidup ini hanya satu kali. Jangan biarkan kemarahan menghancurkan kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Jangan biarkan dendam melahirkan korban berikutnya. Jangan biarkan perbedaan menghapus nilai persaudaraan yang seharusnya kita pelihara bersama.
- Jika kita mengasihi Tuhan, marilah kita menghargai kehidupan manusia. Jika kita mengaku sebagai orang yang beriman, marilah kita menghadirkan kasih melalui tindakan nyata. Jika kita menginginkan Tanah Papua yang damai, marilah kita memulainya dengan menghentikan kekerasan dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita.
- Hidup ini hanya satu kali. Jangan gunakan kehidupan untuk mengakhiri kehidupan orang lain. Gunakanlah hidup untuk menolong, melindungi, mendamaikan, dan menyelamatkan sesama manusia.
- Kiranya Tuhan menolong seluruh masyarakat yang hidup di Tanah Papua untuk menghargai kehidupan, menegakkan keadilan, memutus rantai kekerasan, dan membangun masa depan yang damai bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:21). **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.











