Budaya memang sering hanya jadi pelengkap acara, padahal hari itu negara sedang menyebut desa sebagai garda terdepan. Namun saya bertanya pelan-pelan: budaya yang mana.

Budaya yang hidup di rumah dan kebun.

Atau budaya yang siap tampil di panggung.

Ekonomi kreatif juga begitu. Kata  yang terdengar segar. Tapi siapa yang disebut kreatif. Mama penjual pinang yang menghidupi keluarga. Atau mereka yang punya proposal, akun media sosial, dan akses pelatihan. Dalam banyak kasus, ekonomi kreatif tumbuh subur di spanduk dan platform media, tapi tidak selalu sampai ke dapur.

Setiap OPD baru selalu berarti satu hal yang pasti, anggaran.

Ada belanja pegawai. Ada belanja program. Ada perjalanan dinas.

Itu bukan salah. Itu logika organisasi.

Yang penting adalah arah. Apakah OPD baru ini memperpendek jarak negara dengan rakyat, atau justru menambah satu lantai lagi dalam gedung birokrasi.

Seleksi terbuka, evaluasi kinerja, persetujuan BKN: semuanya terdengar rapi. Dan saya percaya itu perlu.

Namun di  sini, ada pertanyaan yang tak boleh dilewatkan: Apakah orang asli Papua mendapat ruang yang setara, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai penentu arah.

Pelantikan selesai. Foto diambil. SK diserahkan. Gedung kembali sepi. Kampung tetap ramai dengan urusannya sendiri.

BRID akan mulai bekerja. Dinas baru akan menyusun program.

Hari Desa telah lewat sebagai peringatan. Kelak akan lahir banyak laporan. Banyak rekomendasi.

Pertanyaan terpenting bukan seberapa banyak dokumen yang dihasilkan, melainkan siapa yang tertulis di dalamnya. Siapa yang disejahterakan.

Apakah Kwamki Narama, Bela, Hoya, Alama, Jita, Kapiraya, dan Potowaeburu benar-benar masuk peta riset, atau hanya disebut tanpa pernah dibaca.

Karena pengetahuan yang paling berbahaya bukan pengetahuan yang salah, melainkan pengetahuan yang rapi, sah, dan resmi, tapi lupa mendengar kehidupan.

Dan Mimika terlalu kaya dan hidup untuk sekedar dijadikan tabel. **