Membaca Ulang Festival Budaya Lembah Baliem ke-33
1. Dari keseharian ke spketakuler (tradisi intim dan meditatif berubah menjadi tontonan massal), diukur lewat kuantitas dan pencapaian simbolik (rekor MURI).
2. Pengaruh logika luar. Rekor MURI adalah ukuran yang datang dari luar budaya Lembah Baliem, lalu diberlakukan sebagai parameter “prestasi” budaya.
3. Narasi Promosi. Penekanan pada “rekor” membuat berita festival lebih mudah masuk media nasional, tapi bisa saja menambahkan dan sekaligus menggeser fokus dari makna asli pikon sebagai bagian dari keseharian dan rasa.
4. Otentisitas yang direkayasa. Memainkan pikon oleh 1000 orang sekaligus di panggung bernama festival tidak lahir dengan sendirinya (tidak netral). Seribu orang memainkan pikon serentak bukan tradisi lama, tapi rekayasa dan inovasi untuk memenuhi kebutuhan publikasi dan pariwisata.
Di sinilah nalar antropologi mendapat ruang tafsir. Antropolog Arjun Appadurai (diadopsi dari pemikiran Dean MacCannell: “The Tourist: A New Theory of the Leisure Class” menyebut potret dialektika dalam panggung festival itu sebagai staged authenticity, yaitu otentisitas yang dipertunjukkan, bukan dijalani.
Ruang Afirmasi atau Branding Papua?
Festival ini punya dua wajah. Bagi masyarakat setempat, ia adalah ruang afirmasi identitas, kesempatan berkumpul, dan menyambut saudara yang jauh. Namun bagi negara dan industri pariwisata, ia adalah branding Papua. Wajah “indah” yang ingin ditunjukkan kepada dunia, sering kali tanpa sisi lain yang lebih kompleks. Kemiskinan struktural, marginalisasi politik, dan kekerasan lingkungan. Dalam kaca mata Arjun Appadurai, wajah branding Lembah dan Papua itu menyembunyikan panggung belakang (back stage), yaitu kehidupan sehari-hari yang lebih kompleks, berantakan, atau bahkan bertentangan dengan citra panggung depan.
Budaya Bukan Sebatas Atraksi
Budaya adalah ingatan kolektif, kosmologi, dan politik tubuh yang harus dijaga dari reduksi autentisitas menjadi “pertunjukan eksotis”. Tantangannya adalah apakah kita berani mengubah panggung festival menjadi juga panggung kritik, tempat kebudayaan tidak hanya ditampilkan, tetapi diperdebatkan, dipertanyakan, dan dihidupkan kembali sesuai kehendak masyarakat adat, bukan semata arahan brosur wisata.
Lembah sebagai Perlawanan Kultural
Lembah Baliem, dengan kabut paginya dan gema suara pikon yang memantul di dinding gunung, bukan sebatas lokasi festival, ia adalah simbol keteguhan masyarakat adat Papua untuk tetap berdiri di tengah gelombang perubahan yang sering datang dari luar. Dalam setiap perang-perangan adat, tarian yang ditampilkan, dan pikon yang diperdengarkan tersimpan pesan tidak terucap. Bahwa kebudayaan adalah hak untuk menceritakan diri sendiri, bukan berhenti pada materi promosi. Jika festival ini mampu menjadi ruang di mana masyarakat adat bebas mengatur narasi, menampilkan realitas yang mereka pilih, dan mengajak dunia mendengar bukan hanya melihat, maka Lembah Baliem akan tetap menjadi tanah di mana budaya bukan hanya dipamerkan, tetapi juga dijalankan dan dipertahankan. (Isi tulisan tanggung jawab penulis)














