Membaca Ulang Festival Budaya Lembah Baliem ke-33
Oleh : Laurens Minipko
“Budaya adalah hak untuk menceritakan diri sendiri.”
Asap Bakar Batu di Pagi Lembah
ASAP tipis dari tumpukan batu panas naik perlahan ke langit Wamena. Bau ubi manis dan daging babi panggang menyatu dengan ikatan dedaunan yang membungkusnya, penanda ritus bakar batu sedang berlangsung.
Di kejauhan, teriakan perang menggema, diiringi derap kaki puluhan pria bertelanjang dada, koteka terikat rapi. Wajah mereka dilumuri arang dan warna-warni cat dengan tombak di tangan. Anak-anak berlarian di pinggir lapangan, sebagian memegang noken, sebagian lagi menatap takjub rombongan turis yang memotret tanpa henti. Namun hamparan nada yang paling mencengangkan adalah satu paduan nada yang memenggema dari pikon (alat music terbuat dari bambu bulu) yang melekat pada bibir seribuan remaja Dani, Hubula, Lany dan Yali.
Inilah Festival Budaya Lembah Baliem ke-33, yang sekali lagi mengubah lembah hijau ini menjadi panggung raksasa kebudayaan pegunungan Papua.
Merefleksikan ulang wajah lain dari Festival Lembah Baliem adalah latar belakang dari tulisan ini. Sejak penetapannya tahun 1989, festival ini telah turut membentuk citra Lembah Baliem dan bahkan Papua di ruang sosial yang lebih luas. Namun patut disadari bersama bahwa panggung ini memunculkan apa yang disebut staged authenticity, panggung pertemuan dua logika yang saling bertentangan (logika identitas dan logika pasar), panggung yang belum sempat menampilkan autentisitas cerita penutur budaya secara utuh.
Dari Ingatan Kolektif ke Etalase Budaya
Sejak dimulai pada tahun 1989, festival ini memadukan tiga kekuatan asimetris. Ingatan kolektif masyarakat adat, logika industri pariwisata, dan strategi politik negara. Di satu sisi, ia menghidupkan kembali tradisi perang suku sebagai simbol ketangguhan dan kebersamaan, meski fungsi sosial aslinya sudah berubah. Di sisi lain, ia menjadikan kebudayaan sebagai komoditas, yaitu sesuatu yang bisa dijual, dijadwalkan, dan dikoreografikan demi kalender event tahunan. Perubahan paling fundamental dari kebudayaan asli justru terjadi di sana.
Siapa Mengatur Narasi?
Ketika kebudayaan dikemas untuk pasar wisata, pertanyaan penting muncul. Siapa memegang kendali atas tafsir pada otentisitas konten festival? Apakah Suku Dani atau suku-suku kerabat terdekat yang terhimpun di dalamnya benar-benar menentukan cerita yang ingin mereka sampaikan? Ataukah narasi yang diperdengarkan dan dipertontonkan dibentuk oleh bahasa promosi brosur dan konferensi pers?
Ada konten baru yang diangkat di pentas tahunan ini, yaitu pikon. MURI mencatat rekor 1.000 remaja memainkan alat musik pikon. Dalam beberapa catatan studi antropologi, pikon biasanya dipakai untuk hiburan pribadi atau komunikasi sederhana di kebun dan perjalanan. Dalam kehidupan sehari-hari, pikon dimainkan sendiri atau dalam kelompok kecil, dengan bunyi yang lembut, kadang bersifat meditatif dan mistis. Namun di festival ini pikon dibawa ke panggung besar (1000 remaja memainkannya serentak untuk memecahkan rekor MURI).
Ada empat hal yang mengemuka dalam panggung pikon, yaitu:
1. Dari keseharian ke spketakuler (tradisi intim dan meditatif berubah menjadi tontonan massal), diukur lewat kuantitas dan pencapaian simbolik (rekor MURI).
2. Pengaruh logika luar. Rekor MURI adalah ukuran yang datang dari luar budaya Lembah Baliem, lalu diberlakukan sebagai parameter “prestasi” budaya.
3. Narasi Promosi. Penekanan pada “rekor” membuat berita festival lebih mudah masuk media nasional, tapi bisa saja menambahkan dan sekaligus menggeser fokus dari makna asli pikon sebagai bagian dari keseharian dan rasa.
4. Otentisitas yang direkayasa. Memainkan pikon oleh 1000 orang sekaligus di panggung bernama festival tidak lahir dengan sendirinya (tidak netral). Seribu orang memainkan pikon serentak bukan tradisi lama, tapi rekayasa dan inovasi untuk memenuhi kebutuhan publikasi dan pariwisata.
Di sinilah nalar antropologi mendapat ruang tafsir. Antropolog Arjun Appadurai (diadopsi dari pemikiran Dean MacCannell: “The Tourist: A New Theory of the Leisure Class” menyebut potret dialektika dalam panggung festival itu sebagai staged authenticity, yaitu otentisitas yang dipertunjukkan, bukan dijalani.
Ruang Afirmasi atau Branding Papua?
Festival ini punya dua wajah. Bagi masyarakat setempat, ia adalah ruang afirmasi identitas, kesempatan berkumpul, dan menyambut saudara yang jauh. Namun bagi negara dan industri pariwisata, ia adalah branding Papua. Wajah “indah” yang ingin ditunjukkan kepada dunia, sering kali tanpa sisi lain yang lebih kompleks. Kemiskinan struktural, marginalisasi politik, dan kekerasan lingkungan. Dalam kaca mata Arjun Appadurai, wajah branding Lembah dan Papua itu menyembunyikan panggung belakang (back stage), yaitu kehidupan sehari-hari yang lebih kompleks, berantakan, atau bahkan bertentangan dengan citra panggung depan.
Budaya Bukan Sebatas Atraksi
Budaya adalah ingatan kolektif, kosmologi, dan politik tubuh yang harus dijaga dari reduksi autentisitas menjadi “pertunjukan eksotis”. Tantangannya adalah apakah kita berani mengubah panggung festival menjadi juga panggung kritik, tempat kebudayaan tidak hanya ditampilkan, tetapi diperdebatkan, dipertanyakan, dan dihidupkan kembali sesuai kehendak masyarakat adat, bukan semata arahan brosur wisata.
Lembah sebagai Perlawanan Kultural
Lembah Baliem, dengan kabut paginya dan gema suara pikon yang memantul di dinding gunung, bukan sebatas lokasi festival, ia adalah simbol keteguhan masyarakat adat Papua untuk tetap berdiri di tengah gelombang perubahan yang sering datang dari luar. Dalam setiap perang-perangan adat, tarian yang ditampilkan, dan pikon yang diperdengarkan tersimpan pesan tidak terucap. Bahwa kebudayaan adalah hak untuk menceritakan diri sendiri, bukan berhenti pada materi promosi. Jika festival ini mampu menjadi ruang di mana masyarakat adat bebas mengatur narasi, menampilkan realitas yang mereka pilih, dan mengajak dunia mendengar bukan hanya melihat, maka Lembah Baliem akan tetap menjadi tanah di mana budaya bukan hanya dipamerkan, tetapi juga dijalankan dan dipertahankan. (Isi tulisan tanggung jawab penulis)














