Masyarakat Kamoro Kampung Mioko Adakan Upacara Penancapan Patung Mbitoro untuk Pesta Karapau
Ritual Pemanggilan Roh dan Prosesi Pengangkatan
Sebelum diangkat, para tetua adat melakukan ritual pemanggilan roh leluhur agar masuk dan tinggal dalam Mbitoro. Prosesi ini dilanjutkan dengan mengangkat patung sambil digoyang-goyang dan sesekali dilempar ke udara diiringi bunyi gong dan tifa. Perempuan dan laki-laki turut melakukan tarian khas Kamoro.
Dari lokasi pemahatan, Mbitoro diarak menuju Rumah Adat Karapau, kemudian kembali menuju sungai untuk disiram air sebagai bentuk penyatuan dengan alam. Di tengah perjalanan warga menggunakan kayu panjang memukul Mbitoro.
Ritual ini untuk mendeteksi niat jahat atau gangguan terhadap kampung.
Makna dan Tahapan Karapau
Tokoh adat Benediktus Maknaepeku mengisahkan, bahwa upacara Karapau merupakan proses pendewasaan anak laki-laki Kamoro agar mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Patung Mbitoro yang terbuat dari kayu nangka tua diperkirakan mampu bertahan 1–2 tahun hingga rusak sendiri.
Setelah penancapan Mbitoro utama, dilanjutkan menancapkan Mbitoro-mbitoro kecil yang menghubungkan rumah besar Karapau. Tahap berikutnya pemasangan kayu, atap hingga dilarang ada kayu baru masuk. Para ibu kemudian menutup dinding menggunakan tikar adat sesuai taparu (marga), dilanjutkan menata bagian dalam rumah.
Upacara Pendewasaan Anak
Inti Karapau adalah prosesi pendewasaan anak laki-laki. Anak laki-laki tertua dalam keluarga mengenakan pakaian adat tauri. Usia tidak dibatasi, bergantung pada kerelaan orang tua. Pada waktunya, saudara laki-laki dan perempuan akan bertemu dan anak laki-laki pertama atau kedua diberikan ikatan tauri di bawah pusar, diikuti saudara berikutnya.
Selama prosesi, mereka diberi nasihat tentang kasih sayang, hidup damai, berbagi dengan saudara, menghargai orang tua, serta bertanggungjawab terhadap adik-adiknya. Pesan-pesan itu menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan.
Usai penancapan, tetua adat, tokoh masyarakat hingga aparat kampung memanjat Mbitoro untuk menyampaikan pesan dan ucapan terima kasih kepada para tamu dan seluruh pihak yang membantu prosesi adat tersebut. Antusias masyarakat terlihat sangat tinggi dengan mengenakan pakaian adat Kamoro.”
Hadir dalam momen ini, Marianus Maknaepeku, Wakil Ketua I Lemasko, Ketua DPRK Mimika Primus Natikapereyau, Thomas Mutaweyau, Anggota DMRP Papua Tengah, Yohanes Yance Boyau, Ketua Lembaga Masyarakat Hukum Adat (LMHA) Suku Kamoro/Mimika Wee periode 2025-2030. **












