Malaria Berkontribusi Terhadap Stunting! Awal 2026, Angka Stunting di Mimika Turun 9-11 Persen
Program tersebut melibatkan seluruh lapisan masyarakat, khususnya di wilayah Kelurahan Kamoro Jaya yang sebelumnya memiliki angka kasus malaria cukup tinggi, yakni sekitar 30 persen. Setelah intervensi terpadu, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 3-5 persen.
“Ini bukti kerja sama pemerintah dan masyarakat dalam memberantas tempat-tempat perindukan nyamuk sangat efektif,” katanya.
Selain kegiatan bersih lingkungan, HAKLI juga memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk melakukan penyemprotan (fogging) secara mandiri di lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dengan tetap berada dalam pengawasan Dinkes.
Menurut Reynold, pelatihan tersebut bertujuan agar model penanganan malaria tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat.
Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berupaya menurunkan kasus malaria melalui berbagai strategi. Namun, aspek kebersihan lingkungan tetap menjadi tanggung jawab bersama.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah guna mencegah berkembangnya nyamuk.
“Malaria hanya bisa dikendalikan jika masyarakat patuh minum obat, menggunakan kelambu saat tidur, serta mengurangi aktivitas di luar rumah pada jam-jam rawan, terutama sore hingga malam hari,” tegasnya.
Sebagai langkah penguatan layanan, mulai 2026 setiap Puskesmas di Mimika akan dilengkapi dengan Tim Pojok Malaria yang terdiri dari dokter, apoteker, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lingkungan (Kesling).
Dengan adanya tim ini, pelayanan kesehatan diharapkan semakin dekat dan menjangkau masyarakat hingga ke tingkat Puskesmas Pembantu (Pustu).
“Dengan pendekatan terpadu ini, kami optimistis penurunan angka stunting dan malaria di Mimika akan terus berlanjut,” pungkasnya. **
















