Malaria Berkontribusi Terhadap Stunting! Awal 2026, Angka Stunting di Mimika Turun 9-11 Persen
Timika,papuaglobalnews.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Rizal Ubra, mengungkapkan berdasarkan data awal tahun 2026, angka stunting di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengalami penurunan signifikan dikisaran 9-11 persen dari sekitar 25 ribu anak yang berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi fokus intervensi pemerintah daerah. Secara persentase, angka stunting di Mimika saat ini tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 19,8 persen.
Hal tersebut disampaikan Reynold kepada papuaglobalnews.com di Timika belum lama ini.
Menurut Reynold, jika dikaji berdasarkan referensi jurnal internasional dan data kasus di lapangan, malaria menjadi salah satu faktor dominan penyebab stunting pada anak balita di Mimika, dengan kontribusi mencapai 74-76 persen.
“Ibu hamil atau anak-anak yang sering terkena malaria sangat rentan mengalami stunting. Ini disebabkan asupan gizi yang dikonsumsi ibu hamil atau balita tidak terpenuhi sesuai standar kebutuhan, karena terganggu oleh infeksi berulang,” ujarnya.
Selain malaria, infeksi kecacingan juga menjadi salah satu penyumbang tingginya kasus stunting di Mimika.
Reynold menegaskan, strategi pemerintah dalam menekan angka stunting tidak hanya berfokus pada perbaikan gizi, tetapi juga pada penguatan pelayanan kesehatan bagi kelompok prioritas berisiko tinggi dan kelompok rentan.
“Anak-anak dan ibu hamil yang terkena malaria maupun kecacingan masuk dalam kelompok berisiko tinggi. Berdasarkan data malaria, ibu hamil yang mendapatkan obat pencegahan di sepuluh Puskesmas dalam kota, hanya empat persen yang masih menderita malaria,” jelasnya.
Menurutnya, rendahnya persentase ibu hamil yang terpapar malaria menunjukkan bahwa perlindungan terhadap ibu dan bayi dalam kandungan sudah berjalan efektif.
Salah satu fokus utama pencegahan malaria pada 2026 adalah pengendalian vektor, yaitu upaya pemberantasan tempat berkembang biaknya nyamuk.
Reynold menyebut, pengendalian vektor telah menunjukkan hasil positif pada 2025. Saat itu, Dinkes Mimika bekerja sama dengan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Mimika mengintegrasikan program Jumat Bersih (Clean Friday) yang dicanangkan Bupati Mimika di Distrik Wania.
















