LMA Mimika Rayakan Ibadah Natal Bersama, Pdt. Wenda : Semua Harus Bersatu Hadirkan Perdamaian
Ia mengatakan perdamaian harus diciptakan, dinyatakan bukan saja berbicara.
“Apa yang sedang terjadi dengan Timika hari ini? Di Kwamki Narama terjadi perang saudara yang tidak berkesudahan. Apa yang terjadi di Papua? Terjadi pengungsian di mana-mana. Ini menjadi tugas semua kita yang percaya kepada Yesus untuk kembali bersatu hadirkan perdamaian,” pesannya.
Wenda mengingatkan LMA yang membawahi tujuh suku di Mimika harus menghadirkan satu bahasa perdamaian. Perdamaian ini hadir bukan menunggu orang dari luar datang mempersatukan, tetapi harus lahir dari masyarakat tujuh suku sendiri di tanah ini. Kehadiran LMA untuk tujuh suku harus memberikan peran kuat dalam menghadirkan kenyamanan dan kedamaian dalam melayani masyarak, dengan dasar beriman kepada Tuhan bukan mengandalkan kekuatan manusia sendiri.
“Karena ketika Saul merasa dirinya bisa maka urapan itu diambil kembali oleh Tuhan dan diberikan kepada Daud,” ingatnya.
Ia mengungkapkan dalam mendamaikan situasi konflik di Kwamki Narama, LMA memiliki peran utama karena di dalamnya berkumpul para kepala suku yang sudah biasa menangani persoalan yang sama dan pemerintah menjadi orang kedua dalam menyelesaikan setiap persoalan.
LMA harus hadir untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat yang mengalami diintimidasi, ditindas dengan mencari akar permasalahan untuk diselesaikan.
Selain itu, LMA harus bersatu melaksanakan suatu kegiatan besar masyarakat dengan gotong royong, kerjasama bukan berjalan masing-masing. Karena hidup hanya seorang diri, satu kelompok itu hal yang kurang baik, tetapi harus bersatu dengan yang lain. Disitulah akan terlihat suatu suasana damai tanpa memandang status kaya dan miskin, kulit putih atau hitam, kiriting atau lurus. Sebab semua sama di mata Tuhan dan yang terlihat hanyalah kedamaian dan keunikan dalam kesatuan antara satu dengan yang lain.
Ia menegaskan setiap kejadian sekecil apapun di Timika begitu cepat menyebar di seluruh dunia, karena Timika merupakan dapurnya Indonesia dan dunia.
Ia mengkuatirkan sebagai orang yang tinggal di ‘dapur’ tanpa ada kerjasama dan gotong royong satu dengan yang lain maka akan dikuasai dan disingkirkan oleh orang lain.
Ia berpesan harus belajar dari pengalaman anak Betawai di Jakarta semula sebagai pemilih tanah. Sekarang hanya tinggal kenangan dan cerita sebagai orang pribumi dan kini hidupnya sudah tersingkir dari tanah warisan leluhurnya karena semua sudah dikuasai oleh orang lain. Kondisi ini akan terjadi di Timika, orang-orang pribumi akan hidup di pinggiran kota dan hutan yang akan dikepung oleh nyamuk.
Sementara Pdt. Yohanes Magai yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Mimika yang menggantikan Alm. Yakobus Kogoya dalam laporannya menyampaikan, ini merupakan Natal pertama kali sejak 24 tahun LMA hadir di Mimika.
Magai mengungkapkan LMA hadir untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat tujuh suku (semua orang Papua-red) yang tinggal di Mimika sebagai dapur bersama. Dengan demikian LMA tidak ada yang mengklaim sebagai milik salah satu suku tetapi milik bersama Orang Asli Papua (OAP).
Ia juga menegaskan LMA merupakan lembaga netral tanpa memihak kepada siapapun yang diibaratkan lampu untuk menerangani semua.
Sebagai lembaga, Magai menegaskan akan mendukung dan mengkawal seluruh program kerja Pemerintah Pusat dan Daerah.
Ia mengungkapkan pada tahun 2026, LMA akan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Mimika bersama tokoh agama. LMA, Pemerintah dan Agama harus menjadi tiga pilar utama. Ketiganya harus duduk bersama untuk membahas program pembangunan di Mimika. Salah satunya LMA akan memberikan masukan dan dukungan terhadap melahirkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan perang dan melarang berdagang pada Hari Minggu.
Ia mengajak semua pihak mendukung honai LMA agar dapat menjalankan program-program untuk kepentingan masyarakat adat.
Dalam ibadah Natal bersama ini menjdapat kunjungan Johannes Rettob, Bupati Mimika, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), Dr. Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag., M.Ed., Ph.D., didampingi Ketua FKUB Mimika Dr. Jeffrey Hutagalung, M.Phil, dam Yan Selamat Purba, Kepala Bakesbangpol Mimika. **














































