Timika,papuaglobalnews.com – Menyikapi situasi konflik Kapiraya antara masyarakat Suku Kamoro di Distrik Mimika Barat Tengah-Kapiraya Kabupaten Mimika dan Suku Mee, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah yang  hingga kini belum selesai, Keuskupan Timika mengeluarkan enam seruan profetis dalam menjalani masa Prapaskah 2026 ini.

Seruan profetis dengan tajuk ‘menganggu kehidupan bersama warga masyarakat atas dan warga bawah yang sudah hidup bersama sejak lama’ dibacakan oleh Rudolf Kambayong, Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian (SKP) didampingi Saul Wanimbo, Ketua SKP Keuskupan Timika dan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Uskup Keuskupan Timika berlangsung di Lantai II Kantor Bobaigo Keuskpan Timika Jalan Cenderawasih SP2, Kamis 5 Maret 2026.

Berikut teks seruan profetis yang disampaikan KSP Keuskupan Timika dalam jumpat pers.

Salah satu tempat yang cukup nyaman, tenang dan kehidupan bersama sebagai manusia bisa dipertontonkan secara nyata, ada di pesisir Kabupaten Mimika. Tempat ini sarat akan sumber daya alam yang sungguh memanjakan siapa saja yang hadir di sana.

Berapa tahun belakangan ini, wajah tempat yang baik itu telah berubah. Berubah karena ada aktivitas pertambangan lokal di Kampung Wakia dan sekitarnya, termasuk Kampung Kapiraya yang disebut-sebut terkait batas-batas wilayah adat dan batas-batas administrasi kabupaten-kabupaten sekitar.

Karena pertambangan masyarakat lokal dan batas-batas wilayah inilah, masyarakat atas dan bawah diperhadap-hadapkan dan kini menjadi konflik antar warga. Konflik ini kemudian menjadi buruk karena warga bukan saja menggunakan alat atau senjata tradisional tetapi juga menggunakan senjata modern jenis senapan angin, yang oleh masyarakat dikenal dengan nama senjata tabung.

Sebagai akibat dari konflik ini adanya korban luka-luka dan banyak juga kerusakan dan kerugian material masyarakat setempat. Banyak warga masyarakat terpaksa harus meninggalkan kampung, rumah dan dusun dan pergi mencari tempat-tempat yang lebih aman.

Melalui Ajaran Sosial Gereja Katolik (Esiklik Laudato Si), yang merupakan seruan moral dan spiritual Gereja Katolik untuk menjaga bumi sebagai “rumah bersama” melalui pertobatan ekologis, keadilan social dan tanggungjawab bersama terhadap tempat, lingkungan tempat kita hidup. Bahwa semua orang dipanggil untuk mencintai, merawat dan melindungi bumi sebagai rumah bersama demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Kami, Gereja Katolik sangat prihatin dengan konflik antar masyarakat yang terjadi hari-hari ini. Untuk itu, kami mengajak semua masyarakat, semua pihak dan secara khusus kepada umat beriman yang sedang ada dalam masa pra  paskah-masa pertobatan, untuk berdoa, memohon Roh Tuhan untuk membersihkan hati, pikiran dan membantu menata langkah kita ke depan agar lebih pasti (Bdk.Mazmur 51:12).

Prihatin atas konflik dan situasi di Kapiraya dan sekitarnya, kami serukan:

  1. Kepada Pemerintah Pusat agar segera mengambil langkah cepat guna membantu warga pengungsi terdampak konflik terutama membantu bahan makanan dan pengobatan.
  2. Kepada semua perusahaan dan siapa saja, terutama yang beraktivitas terkait pertambangan di sekitar daerah konflik agar berhenti beroperasi hingga konflik antar warga masyarakat memperoleh kejelasan hukum, kesepakatan damai antar pihak-pihak yang bersengketa dan konflik dinyatakan selesai.
  3. Kepada Kepolisian Republik Indonesia agar menjalankan tugas pengamanan secara profesional, netral dan proporsional demi mencegah konflik antar warga, melindungi warga sipil dan menjamin rasa aman bagi semua pihak.
  4. Kepada Pemerintah Pusat dan dalam hal ini, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, agar meninjau ulang Surat Keputusan (SK) terkait Tapal Batas Administrasi Kabupaten, dan jika perlu dicabut.
  5. Kepada semua warga masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh muda dan warga umat beriman agar menahan diri, tidak terprofokasi oleh cerita, oleh berita-berita yang tidak benar.
  6. Kepada semua pihak yang berkemauan baik, baik itu di daerah konflik, instansi terkait di Provinsi Papua Tengah, di Tanah Papua maupun di tingkat Nasional agar bersama-sama mendukung Tim Harmonisasi dalam upaya-upaya perdamaian yang sedang berjalan saat ini.

Kami, Gereja Katolik Keuskupan Timika, berdoa, memohon bantuan Tuhan agar kita semua dikuatkan untuk jalan bersama, mencari cara-cara terbaik untuk menyelesaian persoalan-persoalan yang ada agar kita tetap terus hidup sebagai manusia dan orang-orang percaya, dan kiranya Tanah Papua boleh menjadi berkat bagi siapa saja. **