Kedua, menyatukan perbedaan metode. Perbedaan antara metode hisab dan rukyat yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dapat dipertemukan dalam forum sidang isbat melalui musyawarah yang melibatkan data ilmiah dan kesaksian lapangan.

Ketiga, sebagai bentuk kehadiran negara. Sidang isbat menunjukkan tanggung jawab negara dalam mengayomi umat Islam agar dapat menjalankan ibadah secara serentak dan harmonis.

Keempat, mencegah kebingungan di tengah masyarakat. Dengan adanya satu keputusan resmi dari pemerintah, masyarakat memiliki pedoman yang jelas sehingga tidak terjadi kebingungan akibat perbedaan penentuan hari raya.

Kelima, sebagai bentuk verifikasi ilmiah. Sidang isbat menggabungkan metode hisab dan rukyat yang dilakukan dari berbagai titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia untuk memastikan keakuratan penetapan awal bulan hijriah.

Amin menegaskan sidang isbat bukanlah untuk menandingi salah satu metode, melainkan sebagai mekanisme kolektif yang mengedepankan pendekatan ilmiah, musyawarah, serta kepastian hukum demi menjaga persatuan umat.

Dengan demikian, diharapkan seluruh umat Islam dapat menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh kebersamaan, ketenangan, dan rasa persaudaraan. **